SafeLight Tsunami Route, Inovasi Mahasiswa D4 K3 untuk Mendukung Evakuasi Bencana

SURABAYA – Lima mahasiswa Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) mengembangkan inovasi teknologi mitigasi bencana melalui SafeLight Tsunami Route, sebuah sistem rambu evakuasi cerdas berbasis sensor yang dirancang untuk memberikan informasi kondisi bahaya secara adaptif dan real-time.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Rofiq Arroyan, Nadea Putri Wahyuni, Cicilia Febriana Mayangsari, Rachmalia Eka Putri, dan Angga Adi Nugroho, dengan bimbingan Merry Sunaryo, S.K.M., M.KKK.

SafeLight Tsunami Route dikembangkan sebagai pengembangan dari rambu evakuasi konvensional yang umumnya hanya memberikan informasi arah evakuasi secara statis. Melalui inovasi ini, rambu dirancang tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk arah, tetapi juga mampu memberikan informasi mengenai kondisi bahaya berdasarkan hasil pembacaan sensor secara langsung.

“SafeLight Tsunami Route mengintegrasikan teknologi sensor, sistem monitoring, serta indikator visual dan suara untuk membantu menyampaikan informasi kondisi bencana kepada masyarakat,” ujar tim pengembang.

Integrasikan Sistem Darat dan Laut

SafeLight Tsunami Route mengintegrasikan dua sub-sistem utama, yaitu sub-sistem darat dan sub-sistem laut. Sub-sistem darat menggunakan mikrokontroler ESP32 dan sensor getaran MPU6050 untuk mendeteksi aktivitas atau getaran yang diakibatkan oleh gempa.

Sementara itu, sub-sistem laut menggunakan sensor pelampung untuk memantau perubahan muka air laut sebagai salah satu indikator potensi tsunami.

Data dari kedua sub-sistem tersebut kemudian digunakan untuk menentukan kondisi yang akan ditampilkan melalui sistem indikator. Dengan demikian, rambu dapat memberikan respons yang menyesuaikan dengan kondisi yang terdeteksi.

Sistem indikator SafeLight Tsunami Route dirancang dengan tiga kondisi utama. Lampu hijau menunjukkan kondisi aman. Lampu kuning yang disertai sirine menjadi tanda adanya kondisi gempa atau kewaspadaan. Sedangkan lampu merah dengan sirine berintensitas lebih tinggi menunjukkan indikasi potensi tsunami dan kebutuhan untuk segera melakukan evakuasi.

Pantau Kondisi Secara Real-Time

Selain memberikan peringatan melalui indikator visual dan suara, SafeLight Tsunami Route juga dilengkapi sistem monitoring. Data yang diperoleh dari sensor dapat dikirimkan melalui modem MiFi menuju sistem monitoring sehingga kondisi sistem dapat dipantau secara real-time.

Informasi tingkat guncangan juga ditampilkan menggunakan Modified Mercalli Intensity (MMI) sebagai representasi tingkat intensitas guncangan yang terdeteksi.

Dari sisi sumber energi, sistem ini memanfaatkan panel surya sebagai sumber energi mandiri. Energi dari panel surya diatur melalui solar charge controller dan disimpan dalam baterai. Selanjutnya, kebutuhan daya berbagai komponen elektronik disesuaikan menggunakan konverter tegangan.

Untuk mendukung penggunaan pada lingkungan pesisir, komponen elektronik utama ditempatkan dalam box pelindung. Perancangan tersebut menjadi bagian dari upaya menyesuaikan perangkat dengan kondisi lingkungan tempat sistem digunakan.

Prototipe Telah Dirakit dan Diuji

Dalam proses pengembangannya, prototipe SafeLight Tsunami Route telah melalui tahap perakitan dan pengujian. Hasil pengujian dan evaluasi digunakan untuk melakukan penyempurnaan pada sejumlah bagian, di antaranya rangkaian elektronik, konfigurasi LED RGB, pemrograman sistem monitoring, serta penyajian informasi tingkat guncangan menggunakan skala MMI.

Pengembangan SafeLight Tsunami Route menjadi salah satu bentuk penerapan keilmuan K3 dalam bidang kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Melalui pendekatan berbasis teknologi, mahasiswa tidak hanya mengembangkan perangkat, tetapi juga berupaya menghadirkan solusi yang dapat mendukung penyampaian informasi dalam situasi darurat.

Melalui inovasi tersebut, tim berharap SafeLight Tsunami Route dapat menjadi sarana pendukung penyampaian informasi kondisi bencana dan evakuasi, khususnya bagi masyarakat yang berada di wilayah pesisir yang memiliki potensi mengalami gempa bumi dan tsunami.

Dengan menggabungkan teknologi sensor, Internet of Things (IoT), indikator visual dan suara, monitoring real-time, serta energi terbarukan, SafeLight Tsunami Route menawarkan pendekatan terhadap sistem rambu evakuasi yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan.

Inovasi ini sekaligus menunjukkan peran mahasiswa D4 K3 dalam mengembangkan solusi berbasis teknologi untuk mendukung keselamatan masyarakat dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. (***)