Termotivasi Jadi Dokter Karena Kondisi di NTT

SATU dari dokter baru Unusa yang dilantik dan diambil sumpahnya pada Selasa (27/2), berasal dari daerah timur Indonesia, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dia adalah M. Ikhwan Fajri Utama. Keputusan untuk mengejar cita-cita sebagai seorang dokter bermula dari keprihatinan terhadap kondisi lapangan daerah asalnya, NTT.

Keterlibatannya dalam dunia kedokteran tidak hanya merupakan hasil dari keputusan pribadi semata, tetapi juga merupakan respons terhadap kondisi kesehatan yang sulit dan terbatas di kampung halaman Ikhwan, Kefamenanu, NTT. “Selain dari dorongan keluarga, saya pribadi merasa terpanggil ketika melihat kondisi kesehatan di kampung saya, miris, masih butuh banyak tenaga kesehatan untuk diperbantukan,” ujarnya.

Selain itu, keterbatasan fasilitas kesehatan di daerah tersebut menjadi pemicu utama bagi dirinya untuk berkomitmen menjadi ’agen perubahan’ dalam bidang kesehatan. Keberpihakan yang jelas terhadap masyarakat, terutama di tengah kendala-kendala kesehatan yang dihadapi dan ingin memberikan kontribusi terhadap masyarakat yang membutuhkan.

Berasal dari keluarga sederhana –ayahnya hanya sebagai wiraswasta– membuat dirinya ingin memperhatikan kesehatan dari masyarakat sekitarnya. “Kondisi di NTT itu bahkan dalam satu kota hanya punya 2-3 dokter, padahal untuk jangkauan luas di suatu kota, kita butuh lebih dari itu. Itu merupakan tantangan nyata dan membuat saya bertekad untuk memberikan jaminan kesehatan yang layak di sana,” tukasnya.

Pria kelahiran Makassar, 13 November 1999 itu mengungkapkan, pemerataan kesehatan tersebut membuat dirinya termotivasi untuk bisa merampungkan pendidikan profesi dokternya hingga lulus UKMPPD. “Untuk setahun ke depan ini saya fokus untuk merampungkan internship yang akan saya jalani.”

Saat disinggung akan melanjutkan pendidikan spesialis, Ikhwan memiliki keinginan untuk mengambil spesialis urologi. “Awalnya saya bingung untuk melanjutkan di spesialis mana, tetapi setelah menjalani koas dan UKMPPD, saya tertarik mempelajari spesialis urologi. Selain minat, tindakan operasinya juga tidak seperti bedah umum,” ucapnya.

Anak pertama dari dua bersaudara tersebut turut menceritakan bahwa selama koas, hal yang menjadi tantangan adalah setiap momen perpindahan stase. Walaupun harus mempelajari materi baru lagi, namun Ikhwan berprinsip untuk menjalaninya dengan enjoy dan ikhlas.

“Capek itu pasti ada, tapi ada rasa kepuasan tersendiri ketika dari hasil penanganan kasus atau konsultasi orang atau pasien tersebut kemudian menjadi sembuh,” ujarnya.

Secara keseluruhan, perjalanan Ikhwan mencerminkan kekuatan transformasional pendidikan dan tekad individu. Keputusannya untuk menjadi dokter sebagai bentuk kontribusi pada masyarakatnya menekankan pentingnya mengatasi kesenjangan kesehatan dan peran penting para profesional yang berkomitmen dalam menciptakan dampak positif. (Humas Unusa)