Rheumatoid Arthritis (Rematik) dan Pemeriksaannya

dr Diyan Wahyu Kurniasari, Sp.PK – Dosen Fakultas Kedokteran (FK)

RHEUMATOID Arthritis atau yang biasa disebut dengan rematik adalah penyakit yang ditandai dengan nyeri dan peradangan pada sendi.

Kondisi ini merupakan penyakit autoimun, yaitu keadaan ketika sistem imun pada tubuh seseorang menyerang sel-sel tubuhnya sendiri (Kemenkes Tim Promkes RSST, 2022).

Rheumatoid Arthritis ini lebih sering dialami oleh wanita dengan risiko 2 – 3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Di Indonesia prevalensi rematik termasuk kelompok penyakit umum dan terjadi pada 7,30% dari total penduduk Indonesia.

Dampak negatif yang ditimbulkan dari penyakit ini dapat berpengaruh signifikan terhadap kemampuan dalam melakukan aktivitas. Dampak  lebih lanjut yang timbul adalah adanya keluhan nyeri persendian dengan tingkat nyeri yang berbeda.

Penting sekali melakukan pemeriksaan dini rematik karena diagnosis dan pengobatan dini dapat memperlambat perkembangan penyakit. Jika tidak segera ditangani, rematik bisa menyebabkan berbagai masalah, salah satunya adalah rasa tidak nyaman akibat nyeri yang terus-menerus dan semakin hebat.

Pada umumnya perlu waktu untuk diagnosis Rheumatoid Arthritis. Pada tahap awal, gejala akan terlihat seperti penyakit lupus atau penyakit jaringan ikat lain. Gejala Rheumatoid Arthritis juga sering kambuh.

Pada awalnya dokter akan memberikan resep dan obat sesuai keluhan sambil terus melakukan pemantauan fisik. Maka dari itu sangat penting untuk memeriksakan diri kepada dokter secara berkala.

Apa saja gejala Rheumatoid Arthritis? Adanya keluhan pembengkakan dan nyeri sendi setidaknya pada satu sendi, mengalami kekakuan pada sendi, sendi terasa hangat dan kemerahan, kelelahan, dan demam disertai penurunan berat badan.

Kapan harus ke dokter? Bila mengalami keluhan radang sendi seperti yang disebutkan sebelumnya selama 3 hari atau lebih, atau jika merasakan keluhan radang sendi berulang kali dalam satu bulan.

Dokter akan bertanya mengenai gejala, riwayat kesehatan dan faktor risiko. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik mendetail apakah ada pembengkakan, kekakuan, atau keterbatasan gerakan di persendian. Selanjutnya dokter akan menganjurkan pasien agar segera melakukan pemeriksaan darah untuk mendeteksi adanya Rheumatoid Arthritis.

Apa saja pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi Rheumatoid Arthritis? Secara keseluruhan tes darah ini bertujuan untuk melihat tanda-tanda terjadinya peradangan pada tubuh. Pemeriksaan yang dimaksud yaitu tes Laju Endap Darah (LED), C-Reactive Protein (CRP), Rheumatic Factor (RF), Antinuclear Antibody Test (ANA) dan Anti-Cyclic Citrullinated Peptide Antibodies (Anti-CCP).

Tes Laju Endap Darah (LED) dilakukan untuk mengetahui seberapa cepat sel darah merah terpisah dengan sel lain di dalam darah, hal ini dapat menjadi pertanda terjadinya peradangan pada tubuh.

Selanjutnya ada C-Reactive Protein Test atau tes CRP, pemeriksaan ini dilakukan untuk mengukur tingkat protein CRP yang diproduksi oleh hati sebagai penanda adanya peradangan. Jika hasil pemeriksaan CRP tinggi, maka hal ini menandakan tubuh sedang mengalami peradangan.

Ketiga, terdapat tes yang dinamakan Rheumatic Factor (RF), yaitu tes yang digunakan untuk mendeteksi adanya Imunoglobulin G yang dihasilkan saat adanya peradangan akibat rematik. Jika hasil pemeriksaan RF tinggi maka dapat disimpulkan sementara bahwa ada indikasi Rheumatoid Arthritis.

Keempat, terdapat Antinuclear Antibody Test atau ANA. Tes ANA adalah indikator umum untuk mendeteksi kelainan autoimun. Jika pemeriksaan ANA positif, maka hal ini mengindikasikan adanya antobodi yang menyerang sel normal dalam tubuh alih-alih menyerang organisme asing.

Terakhir adalah tes Anti-Cyclic Citrullinated Peptide Antibodies atau Anti-CCP, yaitu pemeriksaan auto-antibodi untuk melawan CCP dalam darah. Pemeriksaan ini sangat spesifik untuk Rheumatoid Arthritis. Jika hasil tes Anti-CCP menunjukkan hasil yang positif, maka dapat diartikan ada indikasi Rheumatoid Arthritis.

Selain pemeriksaan laboratorium yang telah disebutkan diatas, diagnosis Rheumatoid Arthritis juga dapat didukung melalui tes pencitraan, yaitu menggunakan pemeriksaan X-ray, MRI, USG, dan CT-Scan.

Penanganan yang dapat dilakukan di rumah untuk mengurangi gejala Rheumatoid Arthritis adalah membatasi aktivitas dan beristirahat, mengompres area yang nyeri dengan es yang dibalut kain selama 20 menit, dan mengkonsumsi makanan yang mengandung omega 3 serta antioksidan.

Sayangnya, hingga saat ini belum diketahui secara pasti cara-cara untuk menghindari Rheumatoid Arthritis, namun ada upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risikonya, antara lain menghentikan kebiasaan merokok, menjaga  berat badan, dan rutin berolahraga. (***)