Gelar Kuliah Pakar Bahas Permasalahan Stunting

Surabaya – Program Studi (Prodi) S1 Gizi Unusa menggelar kuliah pakar yang disampaikan Dr. Toto Sudargo SKM., M.Kes merupakan Ahli Gizi di Klinik lab Cito Yogjakarta dan juga Dosen Universitas Gajah Mada. Dalam kuliah pakar yang membahas tentang stunting kemarin, sekarang dan esok yang digelar secara hybrid di kafe Fastron Unusa Tower Kampus B Unusa serta aplikasi Zoom, Kamis (14/7).


Dalam materinya, Toto menjelaskan permasalah stunting ini sudah terjadi cukup lama, dimana pada tahun 2018 lalu, saat Jusuf Kalla ditegur oleh Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) tentang masalah stunting yang terjadi di Indonesia. Dimana Indonesia masuk tiga besar sebagai salah satu negara yang banyak terjadi stunting. “Kondisi ini sangat mengagetkan, jadi saat itu memang mulai menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah,” ucapnya.


Dimana permasalahan ini bukan hanya memerlukan peran pemerintah, namun juga butuh peran dari beberapa sektor. “Dunia pendidikan dan juga peran keluarga menjadi salah satu hal pendukung untuk mengatasi stunting yang terjadi pada anak dan ibu hamil,” ucap Toto.


Toto menjelaskan saat pertama kali diketahui adanya stunting, pemerintah mencoba untuk membuat desa stunting yang menjadi percontohan di daerah tersebut. “Dengan begitu permasalahan ini langsung direspon cukup bagus dimana setiap desa yang ada permasalahan stunting perlahan bisa teratasi,” ungkap yang juga Dosen Universitas Gajah Mada Yogjakarta.


Permasalahan stunting mula tidak begitu direspon oleh kepala daerah dimana kondisi ini lebih banyak dibebankan oleh Kementrian kesehatan. Namun dengan adanya perintah langsung oleh Presiden membuat pemerintah daerah yang wilayahnya masih ada kasus stunting di wilayahnya.


“Itu pun perlu adanya ancaman terlebih dahulu dengan dicoretnya anggaran dari pemerintah daerah tersebut, yang membuat daerah saat ini lebih peduli untuk mengatasi permasalahan stunting ini,” ujar Toto.


Permasalahan stunting ini tidak hanya dialami oleh masyarakat dengan perekonomian rendah, namun pada masyarakat ekonomi atas banyak yang mengalami stunting. “Tidak jarang yang ekonomi tinggi ini milih untuk makan-makanan yang tidak sehat sehingga gizi yang dibutuhkan sangat dibutuhkan,” ungkapnya.


Toto berharap keluarga bisa mementingkan gizi dari ibu hamil maupun bayi yang rentan mengalami stunting. Dimana, keluarga harus memprioritaskan untuk pemberian gizi yang seimbang. “Jadi gizinya bisa terpenuhi sehingga masalah stunting bisa teratasi,” ujarnya.


Toto menyebutkan permasalah stunting saat ini berangsur sudah mulai menurun, namun pemerintah maupun beberapa sektor yang ikut membantu percepatan penurunan masalah stunting. “Jadi permasalahan stunting ini harus segera teratasi dengan baik,” tuturnya. (humas)