Dosen Unusa Edukasi Self Efficacy (Keyakinan) Akseptor KB

PANDEMI Covid-19 membuat angka drop out Kelurga Berencana (KB) sangat tinggi. Karena selama masa itu semua pekerjaan banyak dilakukan dari rumah sehingga para akseptor banyak yang tidak lagi melanjutkan program KB-nya. Sehingga, angka kehamilan yang tidak diinginkan dikhawatirkan akan tinggi, akibatnya akan memunculkan kualitas bayi yang sangat rendah.

Karena itulah dua dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Nanik Handayani dan Fritria Dwi Anggraini dibantu dua mahasiswanya yakni Hazna Ainur Rahma dan Nurul Fadilah melakukan edukasi kepada para ibu agar tetap mengikuti program KB di masa pandemi ini.

Pengabdian masyarakat ini dilakukan bagi akseptor KB di wilayah kerja Praktik Mandiri Bidan (PMB) Nanik Cholid di Tawangsari Sidoarjo. Selama enam bulan mulai Mei hingga Oktober 2020, akseptor KB mulai pil, suntik 3 bulan, suntik 1 bulan dan IUD menjadi sasaran program ini.

Nanik Handayani selaku ketua tim pengabdian masyarakat ini mengatakan kegiatan ini digelas untuk meningkatkan kepercayaan pada akseptor di masa pandemi Covid 19 ini untuk tetap mengikuti KB. “Kami tidak ingin drop out KB meningkat karena semua banyak yang kerja dari rumah atau work from home,” ujarnya, Senin (8/2).

Apalagi, saat survei yang dilakukan tim ini, telah terjadi penurunan jumlah kunjungan pelayanan KB dari masing masing jenis alat kontrasepsi di PMB Nanik Cholid Sidoarjo baik itu akseptor KB suntik 1 bulan, suntik 3 bulan oral pil dan IUD. Penurunan ini terjadi sejak masa pandemic covid 19 pada Februari 2020.

Karena itu, tim pengmas ini mulai melakukan langkah agar akseptor KB itu tidak patah semangat. Mereka menggunakan metode dengan pendataan semua akseptor di wilayah binaan itu. Menggerakkan secara aktif pola KIE melalui media online dan offline untuk dapat memberikan pemahaman terhadap calon akseptor dan akseptor aktif untuk menjaga kesehatan reproduksinya dengan cara mengingatkan jadwal kunjungan ulang sesuai dengan alat kontrasepsi yang diikuti.

“Kegiatan ini untuk menghindari akseptor putus pakai alat kontrasepsi pada masa pandemi covid 19. Waktu pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini jangka waktu 6 bulan,” jelasnya.

Diakui Nanik, sangat penting meningkatkan pemahaman masyarakat dalam hal ini akseptor KB tentang apa yang perlu mereka lakukan selama masa pandemic ini. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan edukasi yang tepat tentang hal tersebut.

Materi diberikan kepada sasaran mengacu pada buku pedoman bagi akseptor KB yang telah ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan RI tahun 2020, ditunjang dengan materi sosialisasi dari Persatuan Obstetri dan Ginekologi (POGI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Selain itu perlu pula diberikan motivasi kepada akseptor KB dan keluarganya untuk tetap mempunyai keyakinan bahwa di masa Pandemi Covid 19 pelayanan KB tetap berjalan.

“Kami berikan edukasi dengan pemaparan-pemaparan materi terkait program KB. Dengan edukasi ini akseptor akan mempunyai keyakinan untuk tetap mengikuti alat kontrasepsi dengan mematuhi protokol kesehatan,” tuturnya.

Selain itu, tim juga melakukan tanya jawab dengan para akseptor khususnya tentang self efficacy Akseptor KB pada masa pandemi Covid 19.

“Dan ternyata dari hasil evaluasi yang dilakukan melalui kuesioner untuk mengukur pemahaman tentang self efficacy Akseptor KB cukup meningkat pemahaman akseptor,” tandasnya.

Dengan edukasi ini, tim berharap adanya peningkatan pemahaman pada akseptor KB yang tetap harus tetap ke pelayanan kesehatan untuk mengikuti KB dengan mematuhi protokol kesehatan. (lis/sar humas)