Kaget, Perbedaan Budaya Asia dengan Eropa

PROFIL DOSEN
Dr. Ubaidillah Zuhdi, S.T, M.Eng., M.S.M.

Surabaya – Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Teknologi Digital (FEB-TD) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Dr. Ubaidillah Zuhdi, S.T, M.Eng., M.S.M. merasa kaget dengan budaya Asia serta budaya Eropa yang dijalani saat menempuh pendidikan kuliah dan bekerja.

Pria yang biasa disebut Ubay ini, menceritakan awal mulai menjalani kuliah Magister pada tahun 2010 di Tokyo University of Science, Jepang. Dirinya sudah merasa kaget dengan kehidupan kedisiplinan di Negeri Sakura tersebut. Ubay harus beradaptasi dengan kehidupan Jepang.

“Di Jepang semuanya serba disiplin, dengan penyesuaian budaya dari Indonesia, saya sempat kewalahan dengan budaya disini, namun perlahan mulai terbiasa hidup di Jepang,” jelas Ubay, Kamis (4/2).

Ubay tinggal di Jepang sejak tahun 2010 hingga 2015, hal ini membuat dirinya terbiasa dengan budaya Jepang. Budaya Jepang sejatinya tidak berbeda jauh dengan budaya di Indonesia.

“Di dunia kerja, senioritas sangat berpengaruh sekali, jadi adaptasinya tidak terlalu lama,” jelas pria yang baru saja dilantik sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis Teknologi Digital (FEB-TD) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) ini.

Usai lulus sekolah doktor di Jepang, Ubay mulai menjajakan kaki di Polandia untuk menjadi dosen di Gdansk University of Science, Polandia. Perbedaan budaya tersebut membuat dirinya sempat kaget dengan dunia kerja di Eropa.

“Saat di Polandia, di dunia kerja sudah tidak ada namanya senioritas, jadi semuanya setara, sehingga kehidupan disini lebih berkembang,” jelas Pria berusia 36 ini.

Saat tiba di Polandia, Ubay harus kembali beradaptasi dengan budaya di Polandia. “Dimana Budaya di Asia dan Eropa sangat berbeda jauh, jadi penyesuaian ini berbeda sekali,” ungkapnya.

Dalam proses adaptasi ini, Ubay mengaku lebih nyaman lantaran Istrinya Nazra Devi ikut tinggal di Polandia. “Ditambah lingkungan serta warga lokal yang cukup ramah membuat semakin nyaman tinggal di Polandia,” jelasnya.

Meskipun baru tiga tahun tinggal di Polandia, Ubay mengaku sangat senang berada di Eropa. “Masyarakat lokalnya senang saat berbicara dengan orang asing menggunakan bahasa lokal mereka, jadi kondisi itu membuat suasana semakin akrab dan nyaman,” ucapnya.

Pada tahun 2018, dirinya harus kembali ke Indonesia. Saat balik ke Indonesia, dirinya harus beradaptasi kembali. “Budaya yang baru, membuat saya sempat kaget saat di Indonesia,” jelasnya.

Namun, proses adaptasi itu berkisar hingga enam bulan saja. “Meskipun begitu masih terasa perbedaan budaya di Indonesia, Jepang bahkan Polandia. Dan itu berbeda semuanya,” jelas Ubay. (sar humas)