(Seminar Pendidikan Dalam Era MEA) Belajar yang Paling Penting Adalah Mengalami

Surabaya:
Sebanyak 160 mahasiswa berlatarbelakang S1 PGSD dan S1 PG PAUD mengikuti Seminar Nasional yang diadakan Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Sabtu (25/6).

Seminar bertema “Pendidikan Dalam Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)” ini digelar di lantai 3 Aula Kampus A Unusa dengan menghadirkan pakar pendidikan, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie. M.Eng., yang juga Rektor Unusa dan Drs. Nasution. M.Hum, M.Ed, Ph.D, Ketua Prodi S2 Pendidikan IPS Universitas Negeri Surabaya.

Nasution menjelaskan, pendidikan di era MEA merupakan peluang bagi masyarakat Indonesia. Seorang guru harus menyesuaikan kondisi masa kini agar siswa yang dicetaknya dapat berkarya dan bersaing dengan siswa negara asing. Pendidikan hendaknya diarahkan sesuai dengan zamannya. Serta dapat menjawab tantangan zaman. Zaman selalu berubah, kebutuhan masyarakat pun ikut berubah. Apalagi teknologi, terus dan terus berkembang.

“Tema abad 21 terkait kesadaran global. Belajar yang paling penting adalah mengalami, sehingga penerapannya dapat total. Bila siswa memiliki ide, seorang guru harus membiarkannya dulu, jangan sampai dikritisi, lebih baik mereka dampingi dan arahkan. Pendidikan selalu dihubungkan dengan konteks perkembangan terbaru di setiap zamannya,” jelasnya.

Dikatakannya, pergeseran fundamental dari permintaan ekonomi, sosial, dan budaya membutuhkan kebijaksanaan yang kreatif. Hubungan antara pendidikan dan kompetisi dengan agenda abad 21 terutama di Indonesia yang sedang masuk dalam era MEA membutuhkan ide kreatif dari para mahasiswa, guru, maupun segenap civitas akademika untuk senantiasa meningkatkan diri dalam hal meningkatkan pengetahuan dan melakukan pembelajaran sesuai dengan pemikiran kita untuk senantiasa berpikir kreatif untuk dapat menjaga survival masyarakat dalam kerangka iklim kompetisi.

Sementara Rektor Unusa yang juga mantan Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Ditjen Dikti Kemendikbud, Prof Achmad Jazidie, menjelaskan, pusat dinamika masyarakat ekonomi Asean ada di Indonesia, khususnya yang terkait daya saing Indonesia. Ketika sebuah masyarakat memiliki kreativitas dalam bersaing di MEA, maka masyarakat tersebut akan menguasai segala sektor di dalamnya. Negara-negara di dunia yang sudah dikatakan negara sejahtera, di sana mempunyai banyak orang yang berusia tua, karena mereka sudah sejahtera. Sedangkan di Indonesia, masih banyak generasi muda yang siap mengoncang dunia melalui masyarakat ekonomi Asean.

“Indonesia memiliki bonus demografi, salah satunya memiliki penduduk usia produktif. Mereka bisa benar-benar produktif asalkan kesehatan dan pendidikan dapat stabil dan terjalin hubungan yang bagus. Pendidikan dan kesehatan menjadi tantangan terbesar dalam masyarakat ekonomi Asean. Kemiskinan dapat dipotong dengan pedidikan,” jelas Rektor. (Humas Unusa)