Rektor: AI dan Otomatisasi Harus Tingkatkan Produktivitas, Bukan Membuat Malas

SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mendorong sivitas akademika untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital guna meningkatkan produktivitas, efisiensi kerja, dan kualitas layanan. Pemanfaatan Google Workspace, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), serta otomatisasi dinilai menjadi langkah strategis dalam menghadapi perubahan dunia kerja, bisnis, dan pendidikan yang semakin cepat.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Unusa, Prof Tri Yogi Yuwono saat membuka webinar bertajuk “Strategi Meningkatkan Produktivitas dengan Google Workspace, AI, dan Automation” di Surabaya, Kamis (22/10) siang. Webinar ini diselenggarakan bersama Kantor Peningakatan Daya Saing dan Kebekerjaan Unusa, PT Orbit Nasional Edukasi (ONE Indonesia), PT IDStar Cipta Teknologi, dan PT Indosat Ooredoo Hutchison.

Menurut Rektor, tantangan pada era digital bukan lagi sekadar mendapatkan informasi, melainkan kemampuan mengelola informasi, menentukan prioritas, mengatur waktu, dan mengoptimalkan sumber daya agar pekerjaan dapat diselesaikan secara lebih efektif.

“Ketiga teknologi ini, jika disinergikan dengan tepat, dapat menjadi pengungkit produktivitas yang luar biasa. Kita tidak lagi hanya dituntut bekerja lebih keras (work harder), tetapi juga harus mampu bekerja lebih cerdas (work smarter),” ungkapnya.

Rektor menjelaskan, Google Workspace, AI, dan otomatisasi memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam mendukung transformasi digital. Google Workspace menyediakan ekosistem kolaborasi yang memungkinkan tim bekerja bersama secara lebih terintegrasi. Dokumen dapat dikerjakan secara bersamaan, koordinasi berlangsung lebih cepat, dan perkembangan pekerjaan dapat dipantau secara transparan.

Sementara itu, AI dapat dimanfaatkan sebagai asisten cerdas untuk membantu melakukan riset awal, menyusun draf dokumen, menganalisis data, serta merumuskan alternatif pemecahan masalah. Dengan dukungan teknologi tersebut, pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu relatif panjang dapat diselesaikan secara lebih efisien, sehingga tenaga dan waktu dapat dialihkan untuk kegiatan yang membutuhkan pemikiran strategis, kreativitas, dan inovasi.

Adapun otomatisasi, kata Rektor menambahkan, memungkinkan berbagai pekerjaan administratif yang berulang, seperti pengiriman email konfirmasi, pemindahan data, dan pengelolaan jadwal, dilakukan melalui sistem. Dengan demikian, sumber daya manusia dapat lebih berfokus pada pekerjaan yang membutuhkan pertimbangan, kreativitas, dan interaksi manusia.

 

Budaya Kerja Digital

Pada bagian sambutannya, Rektor menegaskan bahwa transformasi digital menjadi kebutuhan penting bagi perguruan tinggi. Unusa berkomitmen memperkuat literasi digital seluruh sivitas akademika, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.

Pengintegrasian teknologi digital di lingkungan kampus diharapkan tidak hanya meningkatkan efektivitas pembelajaran, tetapi juga memperbaiki tata kelola administrasi, mempercepat layanan, serta mendukung hilirisasi hasil penelitian agar memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Rektor mengingatkan, kecanggihan teknologi tidak secara otomatis menghasilkan produktivitas apabila tidak disertai sikap dan etos kerja yang baik. “Sejarah membuktikan bahwa orang yang tekun, rajin, disiplin, dan konsisten akan mampu mengungguli orang pintar yang malas. Teknologi hadir bukan untuk memanjakan kita agar bermalas-malasan atau mencari jalan pintas yang instan dan tidak jujur. Teknologi harus melipatgandakan daya kerja dan produktivitas orang-orang yang mau bekerja keras serta memiliki daya juang tinggi,” tegasnya.

Karena itu, pemanfaatan AI harus tetap menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan dan penanggung jawab atas hasil pekerjaan. Teknologi dapat membantu mempercepat proses, tetapi ketepatan, relevansi, dan kualitas hasil tetap memerlukan pemeriksaan serta pertimbangan manusia.

Rektor juga menekankan pentingnya menjaga etika komunikasi di ruang digital, kejujuran akademik ketika menggunakan AI, serta tanggung jawab dalam melindungi kerahasiaan data. Bagi Unusa yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan tradisi kepesantrenan, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan adab, integritas, dan empati.

“Pintar dalam teknologi, mahir dalam coding, atau ahli dalam prompt engineering tidak akan ada harganya jika kita kehilangan keluhuran akhlak dan karakter moral. Kecerdasan intelektual dan kecanggihan teknologi harus selalu dibimbing oleh nilai-nilai etika,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga mengajak mahasiswa untuk menjadikan webinar sebagai kesempatan meningkatkan kompetensi dan mengembangkan pola pikir yang adaptif terhadap perubahan.

Mahasiswa diharapkan tidak berhenti sebagai pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya untuk menghasilkan solusi, mengembangkan inovasi, menyelesaikan persoalan nyata, serta meningkatkan kualitas karya akademik dan profesional.

Rektor mendorong peserta untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan perkuliahan, pekerjaan, maupun pengelolaan organisasi. Penguasaan teknologi perlu diiringi dengan ketekunan, kedisiplinan, kemampuan berkolaborasi, dan kemauan untuk terus belajar.

Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan digital, tetapi juga mampu beradaptasi, bekerja secara profesional, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Melalui webinar ini, Unusa berharap pemanfaatan Google Workspace, AI, dan otomatisasi dapat semakin dipahami sebagai instrumen untuk membangun budaya kerja yang efektif, kolaboratif, inovatif, dan bertanggung jawab.

Bagi Unusa, transformasi digital bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan upaya membangun sumber daya manusia yang produktif, berdaya saing, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Teknologi yang dimanfaatkan secara tepat, disertai etos kerja dan integritas, diharapkan menjadi kekuatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kepada masyarakat. (Humas Unusa)