Kisah Wisudawan Non-Muslim Menemukan Ruang Belajar di UNUSA

SURABAYA – Selasa (29/9) lalu Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) baru saja menggelar Wisuda ke-22 di Dyandra Convention Hall. Diantara 1.038 wisudawan, terdapat 14 wisudawan non-Muslim. Menariknya, 11 orang atau 78,6 persen di antaranya meraih predikat lulus dengan sangat memuaskan.

Angka ini juga menjadi bagian dari cerita Unusa sebagai perguruan tinggi yang membuka ruang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk belajar, berprestasi, dan tumbuh bersama. Karena pendidikan tidak berhenti pada perbedaan. Pendidikan mempertemukan manusia dalam kesempatan yang sama untuk menjadi lebih baik.

Ini antara lain diungkapkan oleh Meylani Fernanda Bessie, wisudawan asal Kupang yang merupakan anak tunggal dan tercatat sebagai lulusan pertama di keluarganya.

Meylani memilih Unusa karena menyediakan kelas Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), yang memudahkannya melanjutkan pendidikan sambil tetap bekerja. Selain sistem perkuliahan yang dinilainya tidak menyulitkan mahasiswa, ia juga merasakan dukungan dan toleransi dari para dosen.

Pengalaman yang paling membekas bagi Melyani terjadi ketika dirinya diminta memimpin doa dengan tata cara agama Kristen Protestan sebelum perkuliahan dimulai. “Pengalaman saya yang paling mengesankan adalah ketika diminta memimpin doa dengan ajaran agama Kristen Protestan sebelum memulai perkuliahan,” ungkap Meylani.

Hal serupa juga disampaikan oleh Maria Dolorosa Gale, wisudawan dari anak pertama dengan lima bersaudara, sekaligus lulusan pertama di keluarganya. “Salah satu alasan utama memilih Unusa adalah status akreditasi Unggul dan kualitas pendidikannya.”

Selama kuliah, Maria mengaku semakin mengenal teman-teman dari agama lain. Ia juga merasakan bahwa dosen tidak membeda-bedakan mahasiswa berdasarkan keyakinan. “Dosen dan mahasiswa memiliki toleransi yang tinggi. Dosen juga tidak membeda-bedakan mahasiswa,” katanya.

Sementara itu, Maria Franciska Xaveria memilih Unusa setelah terlebih dahulu mencari informasi dari sejumlah alumni. Sebelum mendaftar, ia secara khusus menanyakan bagaimana pengalaman mahasiswa non-Muslim yang berkuliah di Unusa. Jawaban positif dari para alumni kemudian membuatnya mantap mengambil keputusan.

Menurut Maria Franciska, suasana tersebut menjadi alasan kuat untuk merekomendasikan Unusa kepada orang lain. “Di Unusa, meskipun non-Muslim, kami tidak dibeda-bedakan. Saling menghargai dan toleransi yang tinggi membuat kami nyaman berkuliah,” katanya.(Humas Unusa)