SURABAYA – Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menarik minat dokter muda dari berbagai daerah dengan latar belakang pengalaman yang berbeda. Mereka dipersatukan oleh satu tujuan: meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak Indonesia.
Salah satunya adalah Annisa Nurisyauqi, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya yang berasal dari Kepulauan Masalembu, Kabupaten Sumenep.
Keinginannya menjadi dokter spesialis kandungan berawal dari sosok sang ibu yang mengabdikan diri sebagai bidan di wilayah kepulauan dengan segala keterbatasan fasilitas kesehatan.
“Sejak kecil saya melihat bagaimana ibu berjuang agar perempuan hamil tetap mendapatkan pelayanan terbaik meskipun fasilitas sangat terbatas. Dari situlah saya bercita-cita menjadi dokter spesialis Obgyn agar suatu saat dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat,” ujar Annisa.
Baginya, pendidikan spesialis bukan sekadar peningkatan karier, tetapi juga bentuk penghormatan kepada kedua orang tuanya sekaligus jalan untuk mengabdi kepada masyarakat yang masih kesulitan memperoleh layanan dokter spesialis.
Dukungan keluarga menjadi kekuatan utama dalam setiap langkah pendidikannya.
“Keluarga selalu mendukung selama pendidikan yang saya tempuh dapat memberikan manfaat bagi banyak orang,” katanya.
Cerita berbeda datang dari seorang dokter, non-muslim, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang pernah bertugas di Kalimantan, Sonia Elvira Salim.
Pengalaman melayani masyarakat di daerah tersebut membuka matanya bahwa masih banyak persoalan kesehatan ibu dan anak yang membutuhkan perhatian serius.
“Pengalaman di Kalimantan semakin menyadarkan saya bahwa masih banyak yang bisa diupayakan agar masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang layak. Untuk itu dibutuhkan pengetahuan yang lebih mendalam sebagai bekal memberikan pelayanan sesuai kondisi masyarakat setempat,” tuturnya.
Perhatiannya tertuju pada masih tingginya angka stunting dan gizi buruk di berbagai wilayah.
Menurutnya, upaya mengatasi persoalan tersebut harus dimulai sejak sebelum kehamilan, selama masa kehamilan, hingga proses persalinan.
“Masih banyak anak mengalami stunting dan gizi buruk. Padahal kesehatan anak dimulai sejak dalam kandungan, bahkan sejak seorang perempuan mempersiapkan kehamilan. Karena itu kesehatan ibu menjadi penentu kualitas generasi masa depan bangsa,” ujarnya.
Dokter asal Surabaya yang saat ini belum berkeluarga itu mengaku memperoleh dukungan penuh dari keluarga untuk menempuh pendidikan spesialis.
Yang menarik, keputusan memilih Unusa juga dipengaruhi oleh budaya akademik yang dinilainya terbuka bagi semua kalangan.
“Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya menerapkan kampus yang inklusif. Semua calon mahasiswa dari berbagai latar belakang dapat belajar tanpa diskriminasi. Selain itu saya ingin menempuh pendidikan yang dekat dengan keluarga karena pendidikan spesialis membutuhkan sistem pendukung yang kuat,” katanya.
Ia juga menilai reputasi Unusa sebagai salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Indonesia menjadi pertimbangan penting. Ditambah lagi, Program PPDS Obgyn memiliki keunggulan dalam pembelajaran mengenai nutrisi janin dan pencegahan stunting serta didukung guru besar dan dosen yang berpengalaman di bidang Obstetri dan Ginekologi.
Sementara itu, Annisa mengaku telah mengikuti perkembangan Fakultas Kedokteran Unusa sejak awal berdiri hingga kini berkembang pesat.
Menurutnya, visi PPDS Obgyn Unusa yang menekankan keunggulan akademik, inovasi, serta pendekatan humanistik semakin menguatkan keyakinannya untuk bergabung sebagai mahasiswa angkatan pertama.
Kisah kedua calon dokter spesialis tersebut menunjukkan bahwa PPDS Obgyn Unusa tidak hanya menjadi pilihan karena kualitas akademik, tetapi juga karena komitmennya membangun pendidikan yang inklusif, humanis, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Dari Kepulauan Masalembu hingga pedalaman Kalimantan, keduanya datang membawa pengalaman yang berbeda. Namun mereka memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan layanan kesehatan ibu dan anak yang lebih baik serta ikut melahirkan generasi Indonesia yang lebih sehat.
Dekan FK Unusa, Prof Budi Santoso menegaskan bahwa angkatan pertama PPDS terdiri atas dokter dari berbagai daerah, agama, dan latar belakang, sebagai bukti bahwa Unusa menjadi rumah bersama bagi calon dokter spesialis yang ingin mengabdi untuk Indonesia. (Humas Unusa)
English

