Surabaya – Menjadi tenaga kesehatan seperti bidan dan perawat tak bisa hanya mengandalkan gelar sarjana untuk bisa terjun menangani pasien. Studi profesi. Begitulah tahap selanjutnya yang harus dilalui agar mereka bisa merawat dan menjaga pasien.
Pada Rabu (3/6) pagi sebanyak 132 wisudawan dilantik dan diambil sumpahnya sebagai profesi Ners dan Bidan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Diantaranya 100 wisudawan profesi Ners serta 32 wisudawan profesi Bidan.
Dalam momen sakral ini, Rektor UNUSA Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA., IPU., ASEAN.Eng., memberikan tiga pesan krusial bagi para lulusan yang akan terjun ke dunia kerja. Dirinya menekankan bahwa gelar yang disandang bukan sekadar simbol, melainkan sebuah kontrak sosial dan moral yang berat.
“Di balik tirai ruang bersalin maupun sunyinya ruang ICU, integritas adalah mata uang tertinggi. Lakukan hal yang benar, bahkan ketika tidak ada pengawasan. Seragam yang kalian kenakan adalah simbol niat dan kehormatan profesi,” tegas Prof. tri Yogi dalam sambutannya.
Selain integritas, Rektor menekankan pentingnya memadukan kemajuan teknologi dengan sentuhan kemanusiaan. Meski era kesehatan kini berbasis pada digital healthcare, Artificial Intelligence, dan rekam medis elektronik. Dirinya mengingatkan bahwa teknologi tidak akan pernah menggantikan jiwa seorang perawat atau bidan.

“Teknologi adalah alat bantu yang luar biasa, namun hanya efektif di tangan mereka yang memiliki hati yang tulus. Jangan jadikan pekerjaan sebagai rutinitas mekanis. Rawatlah pasien seolah-olah kalian sedang merawat orang tua atau saudara kalian sendiri,” tambahnya.
Momen haru menyelimuti ruangan ketika Rektor meminta para lulusan untuk menghampiri orang tua mereka sebagai bentuk bakti. Beliau mengingatkan bahwa keberhasilan hari ini adalah hasil dari tetesan keringat dan doa orang tua yang tidak pernah putus.
Terakhir guru besar bidang konversi energi itu menitipkan nama besar UNUSA kepada para lulusan. Di mana pun mereka mengabdi, baik di pelosok desa maupun kancah internasional, para lulusan harus menjaga marwah profesi dengan akhlaqul karimah dan kompetensi klinis yang unggul.
“Hari ini, kami kembalikan putra-putri kalian ke pangkuan Ibu dan Bapak sekalian sebagai ksatria kemanusiaan yang siap mengabdi,” tutupnya dengan harapan agar para lulusan menjadi praktisi yang membawa keberkahan bagi masyarakat luas.
Pengalaman hidup Satrio Dwimeidita Rifqi, salah satu wisudawan menjadi pukulan bagi dunia kesehatan. Bagaimana dirinya kehilangan sang ibu yang menderita kanker serviks karena tak terdeteksi sejak dini, karena kurangnya fasilitas kesehatan di desanya.
Serta ayahnya yang meninggal dunia karena serangan jantung mendadak saat bekerja. Terlambat mendapat penangan, juga karena minimnya fasilitas kesehatan.

“Saya pendendam terhadap fasilitas kesehatan yang belum merata, terhadap tenaga kesehatan yang belum sejahtera, dan terhadap edukasi kesehatan yang tidak sampai ke masyarakat kecil,” tegasnya.
Ia mengajak rekan sejawatnya untuk tidak hanya mengejar karier di kota besar, melainkan pulang ke daerah asal untuk menjadi garda terdepan kesehatan.(Humas Unusa)
English

