Dedikasi Unusa dalam Ajang Perawat Teladan dan Misi Continuity of Caring

SURABAYA – Semangat peringatan Hari Jadi Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) ke-52 menjadi momentum penting bagi para pejuang kesehatan untuk merefleksikan kompetensi dan inovasi mereka. Dalam ajang bergengsi pemilihan Perawat Teladan tingkat Kota Surabaya, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) kembali menunjukkan taringnya dengan mengirimkan representasi terbaik dari Dewan Pengurus Komisariat (DPK) PPNI Unusa.

Perjalanan menuju predikat perawat teladan bukanlah jalur yang singkat. Kompetisi ini terbagi dalam tiga kategori utama: Pendidikan (Dosen), Rumah Sakit, dan Puskesmas. Sebagai perwakilan dari unsur pendidikan, delegasi Unusa harus melewati serangkaian ujian ketat, mulai dari tes tulis yang menguji pemahaman mendalam tentang patient safety, manajemen keperawatan, hingga mutu pelayanan rumah sakit.

Tahapan yang paling menentukan adalah uji inovasi dan wawancara. Di hadapan para penguji ahli, dosen Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) UNUSA Dr. Yurike Septianingrum, S.kep., Ns., M.Kep.,  memaparkan inovasi yang berakar pada riset kolaboratif. Dukungan penuh dari pimpinan fakultas dan pengurus DPK UNUSA menjadi kekuatan moral saat tim penilai melakukan telusur lapangan ke Kampus A UNUSA.

Meski langkah kali ini berhenti di level DPD Kota Surabaya, pengalaman ini memberikan catatan berharga. Keberhasilan pendahulu, seperti Ibu Iis yang sempat melaju hingga tingkat provinsi (DPW), menjadi tolok ukur bahwa UNUSA memiliki standar kualitas yang tinggi. 

Rencana kedepan dosen yang akrab disapa Yurike itu tengah menyiapkan inovasi melalui skema hibah penelitian. Sebagai ketua Research Center FKK UNUSA, dirinya menyoroti fenomena ‘rantai yang terputus’ dalam pelayanan kesehatan di Indonesia.

“Selama ini, ketika pasien keluar dari rumah sakit tanggung jawab medis seringkali dianggap selsai. Padahal, masa transisi menuju rumah adalah fase paling krusial, seperti pasien stroke,” ungkapnya.

Belajar dari sistem di Jepang, dirinya memimpikan adanya nursing home atau caring home sebagai jembatan kemandirian pasien. Di Indonesia, tantangannya bukan hanya sistem, tapi juga budaya. Budaya masyarakat, khususnya di Jawa, memiliki kecenderungan untuk selalu melayani pasien secara total (serving) sebagai bentuk bakti. Padahal, dalam pemulihan stroke, pelayanan yang berlebihan justru dapat menghambat kemandirian pasien dalam melakukan Activity Daily Living (ADL).

Peran perawat sangat vital dalam mengedukasi keluarga agar tidak sekadar melayani, tetapi memberdayakan. Keluarga perlu dibekali keterampilan teknis, seperti perawatan NGT atau mobilisasi mandiri, agar kualitas hidup pasien tetap terjaga di rumah.

Meneruskan riset disertasinya, Yurike kini tengah bertransformasi. Inovasi yang sebelumnya berbentuk booklet cetak sedang dikembangkan menjadi sebuah aplikasi digital. Melalui aplikasi ini, diharapkan edukasi keperawatan dapat terintegrasi, memudahkan keluarga mengakses panduan perawatan yang tepat, dan memastikan bahwa caring tidak berhenti saat pintu rumah sakit tertutup.

Dengan semangat berbagi peran dan memberikan kesempatan bagi rekan sejawat lainnya, perjalanan ini bukan sekadar mengejar penghargaan, melainkan upaya konsisten untuk menempatkan martabat dan kemandirian pasien sebagai prioritas utama dalam setiap asuhan keperawatan.(Humas Unusa)