Sumpah Dokter Unusa ke-16, dr. Nida Aras Dianti Wujudkan Cita-Cita Sejak Kecil

Surabaya – Cita-cita menjadi seorang dokter telah tumbuh dalam diri dr. Nida Aras Dianti sejak kecil. Cita-cita tersebut semakin kuat setelah sebuah pengalaman masa kecil mempertemukannya dengan sosok dokter yang kemudian menjadi inspirasinya hingga saat ini.

Nida mengisahkan, ketika masih kecil ia pernah sakit dan kemudian sembuh, pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam baginya. Sosok dokter yang telah membantunya pulih membuat Nida melihat profesi dokter dari sudut pandang yang berbeda.

Dari pengalaman tersebut, Nida mulai memiliki keinginan untuk menjadi seperti dokter yang pernah menanganinya. Bahkan, sejak saat itu ia sempat bercita-cita untuk menjadi dokter spesialis anak.

“Dari kecil memang cita-cita saya menjadi dokter dan tidak pernah berubah. Waktu kecil saya pernah sakit dan ditangani oleh dokter spesialis anak. Setelah sembuh, saya melihat dokter tersebut sebagai sosok yang sangat menginspirasi saya. Dari situ saya berpikir ingin menjadi seperti beliau dan bisa membantu anak-anak lain,” tutur Nida.

Keinginan tersebut kemudian menjadi motivasi bagi Nida untuk menempuh pendidikan kedokteran hingga akhirnya hari ini dirinya menjadi salah satu dokter yang dilantik dalam acara Sumpah Dokter Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) ke-16.

Menurut Nida, perjalanan selama menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran (FK) UNUSA memberikan banyak pengalaman yang tidak hanya memperkaya pengetahuan medis, tetapi juga membentuk kesiapan dirinya dalam menjalani profesi sebagai seorang dokter.

Salah satu tahapan yang paling memberikan banyak pengalaman baginya adalah masa kepaniteraan klinik atau koas. Selama menjalani berbagai stase, Nida mendapatkan kesempatan untuk berhadapan langsung dengan pasien serta belajar memahami berbagai kondisi klinis.

Dari sejumlah stase yang dijalaninya, stase Ilmu Penyakit Dalam dan stase Bedah menjadi pengalaman yang paling menantang sekaligus berkesan. Ia menyebut kedua stase tersebut sebagai bagian yang cukup “struggling”, namun justru memberikan banyak ilmu baru yang menjadi bekalnya sebagai dokter.

“Kalau stase yang paling ter-struggling menurut saya itu Ilmu Penyakit Dalam dan Bedah. Tapi dari situ juga banyak sekali ilmu baru yang saya dapat. Di Ilmu Penyakit Dalam saya bertemu dengan banyak pasien dan kondisi yang beragam, sehingga pengalaman yang saya dapat juga sangat banyak,” jelasnya.

Berbagai pengalaman tersebut membuat Nida menyadari bahwa menjadi dokter merupakan proses belajar yang tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan profesi. Baginya, sumpah dokter yang diucapkan hari ini justru menjadi awal dari perjalanan untuk terus mengembangkan diri dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Untuk melanjutkan perjalanan pendidikannya, Nida saat ini telah terdaftar sebagai mahasiswa S2 Manajemen Rumah Sakit di salah satu universitas di Bandung. Pendidikan tersebut menjadi langkah berikutnya bagi Nida untuk memperluas pengetahuan dan kemampuannya, khususnya dalam bidang manajemen pelayanan kesehatan.

Menariknya, perjalanan Nida di FK UNUSA juga akan dilanjutkan oleh sang adik. Adiknya saat ini telah terdaftar sebagai calon mahasiswa baru Program Studi S1 Pendidikan Dokter UNUSA.

“Adik saya juga melanjutkan di FK UNUSA. Sekarang sudah terdaftar sebagai calon mahasiswa baru S1 Pendidikan Dokter,” ungkapnya.

Kini, cita-cita yang tumbuh dari kekaguman seorang anak terhadap dokter yang pernah membantunya telah membawanya sampai pada titik pengucapan sumpah dokter. Dari seorang pasien kecil yang pernah mengagumi sosok dokter spesialis anak, Nida kini memulai perjalanan barunya sebagai seorang dokter dengan harapan dapat memberikan manfaat dan menjadi sosok yang juga menginspirasi orang lain. (Humas Unusa)