SURABAYA: Perguruan tinggi perlu mengubah cara pandang dalam menyusun kurikulum di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang berlangsung sangat cepat. Kurikulum tidak lagi cukup disusun sebagai kumpulan mata kuliah, tetapi harus dirancang berdasarkan kompetensi dan kemampuan yang benar-benar harus dimiliki lulusan ketika menyelesaikan pendidikan.
Pandangan tersebut disampaikan Prof. Widodo dalam rangkaian program redesain kurikulum Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) yang mengusung pengembangan kurikulum berbasis Outcome Based Education(OBE).
Menurut Prof. Widodo, pendekatan OBE menempatkan capaian lulusan sebagai titik awal dalam merancang keseluruhan proses pendidikan. Artinya, perguruan tinggi harus terlebih dahulu menentukan profil dan kompetensi seperti apa yang ingin dihasilkan, kemudian menerjemahkannya ke dalam capaian pembelajaran, bahan kajian, mata kuliah, proses pembelajaran, hingga sistem asesmen.

“Yang harus menjadi pertanyaan bukan hanya mata kuliah apa yang akan diberikan kepada mahasiswa, tetapi lulusan seperti apa yang ingin kita hasilkan dan apa yang mampu mereka lakukan setelah menyelesaikan pendidikan,” jelasnya.
Ia menekankan, penyusunan kurikulum harus berangkat dari visi keilmuan program studi serta mempertimbangkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan masyarakat, dunia kerja, alumni, hingga dunia usaha dan dunia industri.
Dengan pendekatan tersebut, kurikulum tidak menjadi dokumen akademik yang berhenti di atas kertas, tetapi menjadi instrumen yang menghubungkan proses pendidikan dengan kebutuhan nyata di masyarakat.
Prof. Widodo juga mengingatkan bahwa kurikulum tidak boleh bersifat statis. Evaluasi perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan capaian pembelajaran lulusan tetap relevan dengan perkembangan zaman. Evaluasi pada tingkat mikro dapat dilakukan setiap tahun, sementara evaluasi secara makro dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebutuhan industri, serta masukan dari berbagai pemangku kepentingan.
Dalam konteks perkembangan kecerdasan buatan, menurut Prof. Widodo, perguruan tinggi juga perlu mengubah pendekatan. AI tidak tepat jika semata-mata dipandang sebagai ancaman atau teknologi yang harus dijauhkan dari proses pendidikan. “Di tahun 2026, kita tidak bisa melarang AI; kita harus mengorkestrasinya,” demikian salah satu penekanan dalam paparannya.
Karena itu, literasi digital dan etika penggunaan AI perlu menjadi bagian dari kompetensi yang dibangun melalui pendidikan. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu menciptakan pembelajaran yang lebih adaptif dan personal, tetapi tetap harus disertai kemampuan berpikir kritis, etika, serta tanggung jawab dalam menggunakan teknologi.
Menurutnya, tantangan pendidikan masa depan bukan hanya bagaimana mahasiswa mampu menggunakan teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan menghasilkan manusia yang mampu menghadapi persoalan nyata.
Selain penguasaan teknologi, Prof. Widodo menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan responsif terhadap keberagaman. Kurikulum perlu dirancang agar mampu mengakomodasi perbedaan karakteristik peserta didik sekaligus membangun lingkungan pembelajaran yang aman, inklusif, dan menghargai keberagaman.
Pendekatan tersebut sekaligus memperluas makna OBE. Capaian pendidikan tidak semata-mata diukur dari kemampuan kognitif mahasiswa, tetapi juga dari kemampuan beradaptasi, berkolaborasi, memiliki etika, memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, serta memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Bagi Unusa, paparan Prof. Widodo menjadi bagian penting dalam proses redesain kurikulum yang tengah dilakukan. Sebelumnya, dalam rangkaian kegiatan yang sama, Prof. Hermawan Kresno Dipojono menekankan pentingnya menghasilkan lulusan yang robot-proof di tengah perubahan dunia kerja akibat AI dan otomatisasi.
Sementara itu, Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono menempatkan redesain kurikulum sebagai bagian dari transformasi pendidikan agar proses pembelajaran di Unusa semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi.
Dengan demikian, redesain kurikulum Unusa diarahkan bukan sekadar untuk memperbarui dokumen akademik, tetapi untuk memastikan adanya keterhubungan antara visi keilmuan, capaian lulusan, proses pembelajaran, kebutuhan dunia kerja, perkembangan teknologi, dan persoalan masyarakat.
Melalui pendekatan OBE, Unusa berupaya memastikan bahwa setiap proses pendidikan memiliki tujuan yang jelas dan dapat diukur, sekaligus menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan perubahan dan memberikan dampak nyata setelah menyelesaikan pendidikan.
“Lulusan bukan hanya harus tahu, tetapi harus mampu melakukan dan memberikan kontribusi,” menjadi semangat utama pengembangan kurikulum berbasis luaran yang terus didorong dalam proses redesain kurikulum Unusa. (Humas Unusa)
English

