Pengukuhan Prof. Yusak Jadi Tombak Semangat UNUSA Lahirkan Lebih Banyak Guru Besar

Surabaya – Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Yusak Anshori, S.IP., M.M., CPM (Asia) merupakan langkah optimis Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) dalam melahirkan pakar-pakar keilmuan. Prof. Yusak menjadi guru besar pertama yang lahir dari UNUSA.

Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSIS) Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh DEA menuturkan pengukuhan Prof Yusak ini menunjukkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dengan prestasi-prestasi yang telah diraih UNUSA di usia muda ini menunjukkan reputasinya.

“UNUSA punya reputasi yang luar biasa yang didasarkan pemberdayaan yang sustain,” ungkapnya.

Melalui nilai GREATS, kampus hijau ini akan tumbuh secara sustain. Menjadi guru besar adalah amanah. Dalam bahasa Sansekerta, Gu berarti darkness atau kegelapan. dan Ru berarti cahaya atau terang. “Sehingga Guru itu selalu membawa cahaya dalam kegelapan, memberikan pencerahan,” terang Prof Nuh.

Sementara itu, Rektor UNUSA Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA, IPU, ASEAN.Eng menuturkan bahwa UNUSA sendiri pada 2025 telah memiliki 20 doktor baru. Menandai semangat UNUSA dalam meningkatkan mutu dan pakar-pakar keilmuan. Dari banyaknya doktor-doktor di UNUSA ada beberapa yang telah siap untuk menjadi profesor.

“Secara kesiapan dan berkas dua doktor ini sudah siap, namun masih menunggu waktu mengajar untuk genap menjadi 10 tahun. Karena salah satu syarat menjadi Guru Besar harus mengajar sedikitnya selama 10 tahun,” ungkap Prof. Tri Yogi.

Dirinya menegaskan bahwa UNUSA juga terus mendorong para dosen yang telah siap untuk segera menjadi Guru Besar. Bukan hanya untuk melengkapi gelar, namun menjadi Guru Besar menjadi puncak seorang pendidik dalam mendalami ilmu kepakarannya.Selain itu, Prof Tri Yogi menambahkan bahwa lewat orasi ilmiah Prof. Yusak kita melihat lahirnya paradigma baru dalam ilmu manajemen. Di tengah ilusi teknologi dan ancaman burnout massal, manajemen bukan lagi soal prosedural. Softbrain engineer. Menunjukkan manusia bukan hanya menjadi pelaksana sistem, melainkan pusat kesadaran.(Humas Unusa)