Pia Targetkan Pulang ke Mobagu, Sulut

RABU (11/2) siangh menjadi salah satu titik paling bersejarah dalam hidup Praditya Afrilia, perempuan asal Mobagu, Sulawesi Utara. Ia dilantik dan diambil sumpah sebagai dokter di Fakulta Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa).

Pia—sapaan akrabnya—menjadi sorotan bukan hanya karena keberhasilannya meraih gelar dokter, tetapi juga karena latar belakang keluarga yang membentuk jalan hidupnya. Ia tercatat sebagai dokter pertama di keluarganya, sebuah pencapaian yang lahir dari dukungan penuh orang tua.

Kedua orang tua Pia berprofesi sebagai guru di Mobagu, dengan latar belakang keluarga yang kuat di dunia pendidikan. Meski demikian, mereka tidak membatasi pilihan anak sulungnya itu. Sebaliknya, dukungan justru mengalir penuh ketika Pia memutuskan menempuh jalan yang berbeda.

“Ini sangat berarti bagi saya, karena saya dokter pertama di keluarga. Orang tua sangat mendukung sejak awal,” ujar Pia.

Tumbuh di keluarga pendidik membuat Pia akrab dengan nilai pengabdian sejak kecil. Ia terbiasa melihat bagaimana orang tuanya mendedikasikan hidup untuk mencerdaskan generasi di daerahnya. Nilai itu pula yang kemudian ia bawa ketika memilih menjadi dokter.

Di saat banyak dokter muda memilih membangun karier di kota besar, Pia justru memilih arah yang berbeda: kembali ke daerah yang masih membutuhkan.

Pia mengaku, sejak awal ia kuliah kedokteran, bayangan tentang kampung halaman selalu menjadi pengingat mengapa ia harus bertahan. Ia kerap mendengar cerita warga yang menunda berobat karena jarak layanan kesehatan terlalu jauh, atau karena fasilitas yang terbatas. Ada pula yang harus dirujuk ke daerah lain untuk penanganan lanjutan, yang berarti biaya dan waktu bertambah, sementara kondisi pasien tidak selalu memungkinkan untuk menunggu.

“Sejak awal studi di kedokteran, saya punya keinginan bantu kondisi kesehatan di Mobagu. Tenaga kesehatannya masih kurang. Di wilayah-wilayah pelosok, kebutuhan dokter masih sangat dibutuhkan,” ujar perempuan kelahiran Mobagu, 3 April 2001 itu.

Ia percaya, keberadaan dokter di wilayah seperti Mobagu bukan hanya soal layanan medis, tapi juga soal kehadiran harapan. Tentang seseorang yang bisa memberi pertolongan lebih cepat, memberikan edukasi kesehatan, dan memastikan masyarakat tidak merasa sendirian ketika sakit.

Rabu hari ini, Pia resmi menjadi dokter. Ia bukan hanya dokter pertama di keluarganya, tetapi juga membawa misi pribadi: memulangkan ilmu untuk daerah yang membesarkannya. (Humas Unusa)