Nuzlan Nuari Dokter Baru Unusa: Belajar hingga Malaysia Siap Berkontribusi di Indonesia

MESKI terlahir sebagai anak kedua dan satu-satunya laki-laki dari empat bersaudara, dr. Nuzlan Nuari berharap dua adiknya kelak mengikuti jejaknya menjadi dokter. Harapan itu disampaikannya usai mengikuti pengambilan sumpah dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Rabu (11/2) siang.

Nuzlan merupakan satu dari 47 dokter baru yang diambil sumpahnya pada kesempatan tersebut. Ia menuturkan, kakak pertamanya kini telah lebih dahulu menyelesaikan pendidikan dokter. Kakaknya, Millatul Fahiroh Thohir, menempuh pendidikan kedokteran di Hubei Polytechnic University, China, dan saat ini sedang menjalani program penyetaraan di salah satu rumah sakit di Makassar.

“Karena kakak saya dan saya sudah menjadi dokter, sepertinya dua adik saya juga ingin mengikuti jejak tersebut, sekaligus memenuhi harapan kedua orang tua,” ujar pria kelahiran Morotai, Maluku Utara, 4 Desember 2001 itu.

Berasal dari keluarga non-kesehatan, Nuzlan mengakui bahwa pada awalnya ia merasa cukup berat menjalani pendidikan di fakultas kedokteran. Tantangan adaptasi dirasakannya sejak perkuliahan hingga memasuki tahap pendidikan klinik.

“Saya tidak membayangkan harus mempelajari anatomi secara sangat detail. Adaptasi juga saya rasakan ketika mengikuti kegiatan pelayanan kesehatan dan saat menjalani pendidikan profesi dokter (koasisten),” kata anak kedua dari pasangan Abdul Karim dan Syarifah Aini.

Pengalaman berharga lainnya diperoleh Nuzlan saat mengikuti Program Elektif Internasional Health Medicine di RS Sultan Abdul Azis Syah, Universitas Putra Malaysia (UPM). Di rumah sakit tersebut, ia menjalani magang di bagian stroke center dan mempelajari sistem pelayanan kesehatan yang berbeda dengan di Indonesia.

“Kami mahasiswa dari Unusa tidak kalah, baik dari sisi pengetahuan maupun keterampilan. Hal itu diakui langsung oleh dokter pendamping di sana. Kami bangga dengan pembelajaran dan fasilitas praktikum yang diberikan Unusa,” ujarnya.

Berbekal pengalaman tersebut, Nuzlan memotivasi mahasiswa Fakultas Kedokteran Unusa agar tidak minder dibandingkan dengan mahasiswa dari fakultas kedokteran lain.

“FK Unusa memang relatif muda, tetapi sudah mampu bersaing. Banyak alumninya diterima di program pendidikan spesialis. Dosen-dosennya juga sangat ahli dan berpengalaman di bidangnya masing-masing”,” katanya.

Ke depan, Nuzlan berencana kembali mengabdi di daerah asalnya, Morotai, Maluku Utara, yang menurutnya masih membutuhkan tenaga medis. Ia juga bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis bedah saraf dan atau menempuh program doktor (Ph.D).

“Saya tertarik pada jalur klinis sekaligus akademis. Mudah-mudahan keduanya bisa berjalan seiring,” ujar alumni SMA Negeri 1 Kraksaan, Probolinggo, yang gemar berolahraga tersebut.

Ia berharap kelak dapat mengabdi bersama keluarga dan berkontribusi dalam peningkatan layanan kesehatan di Morotai, daerah kelahirannya. (Humas Unusa)