Behind The Truths: Cara Unik Mahasiswa Kesmas Unusa Membongkar Masalah Kesehatan dari Akarnya

Surabaya – Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) kembali mengadakan Live Showcase sebagai bagian dari penguatan pembelajaran mahasiswa. Tahun ini, kegiatan tersebut mengusung tema “Behind The Truths: Health, Lifestyle, and Untold Stories”, yang menyoroti berbagai persoalan kesehatan dari sudut pandang yang lebih mendalam dan kritis.

Live Showcase ini menjadi bagian dari proses pembelajaran dalam mata kuliah Pengembangan Kesehatan Semester 7 serta mata kuliah Komunikasi Kesehatan Semester 3.

Dosen Kesehatan Masyarakat Unusa, Atik Qurrota A’Yunin Al Isyrofi, S.KM., M.Kes., mengatakan bahwa tema tahun ini dipilih karena relevan dengan persoalan kesehatan yang sedang banyak dibicarakan masyarakat. Mulai dari penyakit tidak menular seperti diabetes, hingga isu yang semakin mendapat perhatian yaitu kesehatan mental.

Menurut Atik, Live Showcase tidak hanya fokus pada isu kesehatan yang tampak di permukaan. Mahasiswa justru diarahkan untuk menelusuri lebih jauh akar masalah yang sering kali luput dari perhatian. Di sinilah konsep untold stories menjadi penting—mencari cerita yang tersembunyi, alasan yang tidak terlihat, hingga faktor yang membentuk kebiasaan masyarakat.

“Mahasiswa tidak hanya diajarkan bagaimana mencari solusinya, tetapi juga mencari penyebabnya. Mereka dilatih melihat lebih dalam, termasuk menemukan untold stories dari masalah itu,” tambahnya.

Belajar Menggali Akar Masalah, Bukan Sekadar Menyalahkan Kebiasaan

Atik mencontohkan salah satu isu yang banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, yakni diabetes. Selama ini, diabetes sering dikaitkan dengan konsumsi makanan dan minuman manis. Namun dalam pendekatan yang dibangun melalui Live Showcase, mahasiswa tidak berhenti pada kesimpulan tersebut.

Mahasiswa diminta melanjutkan pertanyaan berikutnya: mengapa seseorang bisa kecanduan makanan atau minuman manis? Apakah karena faktor lingkungan, kebiasaan sejak kecil, tekanan psikologis, pola hidup, akses makanan sehat yang terbatas, atau karena pengaruh tren gaya hidup?

Dengan cara itu, mahasiswa tidak hanya menghasilkan solusi yang umum seperti “kurangi gula”, melainkan juga mampu menyusun rekomendasi yang lebih tepat sasaran berdasarkan penyebab yang ditemukan.

“Misalnya diabetes, penyebabnya makanan dan minuman manis. Tapi setelah itu dicari lagi, mengapa seseorang sampai kecanduan makanan dan minuman manis. Dari situ baru bisa dicari solusi yang tepat,” jelas Atik.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan ide dan pemahaman mereka mengenai isu kesehatan melalui cara yang lebih komunikatif. Tidak hanya dengan menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan pesan yang mampu menyentuh realitas kehidupan masyarakat.

Isu kesehatan di masyarakat bukan hal yang berdiri sendiri. Satu masalah dapat dipengaruhi oleh banyak hal yang berlapis, sehingga penyelesaiannya pun membutuhkan pemahaman yang menyeluruh. (Humas Unusa)