Yeni Fitria Nurahman – Pustawakan Unusa
DI ERA digital ini, pengetahuan tidak lagi disimpan dalam rak-rak fisik, melainkan tersebar dalam format digital yang melimpah dan dinamis. Dalam konteks ini, manajemen pengetahuan menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa informasi yang melimpah itu dapat diubah menjadi pengetahuan yang berguna, terstruktur, dan berdaya guna. Salah satu instrument utama dalam ekosistem ini adalah repository institusi, dan tokoh sentral dibalik pemeliharaan serta pengembangannya adalah pustakawan.
Peran pustakawan dalam ekosistem ini, jangan dibayangkan hanya menjaga koleksi cetak, melayani pemustaka atau mengatur katalog. Di era digital, pustakawan bertransformasi menjadi knowledge manajer, mampu merancang, mengelola, dan mengoptimalkan alur pengetahuan dalam format digital. Pustakawan perlu terus mengembangkan kompetensi dan memperluas perannya. Kita tahu bahwa lebih dari sekedar mengelola koleksi, pustakawan juga mempunyai andil untuk penyediaan dan penyebaran informasi, berperan dalam meningkatkan penelitian, membantu sivitas akademika dalam literasi informasi digital. Pustakawan menjembatani kebutuhan peneliti, dosen, dan mahasiswa dengan sumber daya digital yang tepat. Melalui pengelolaan repository, pustakawan memastikan bahwa pengetahuan yang dihasilkan tidak hanya tersimpan, tetapi juga terdistribusi, terdokumentasi, dan terintegrasi dalam sistem pengetahuan global.
Di tengah hiruk pikuk dunia akademik Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), dari ruang kuliah, perpustakaan, laboratorium, hingga ruang sidang skripsi tersimpan ruang pengetahuan digital yang tak henti-hentinya tumbuh dan berkembang yaitu repository UNUSA. Dalam diamnya, repository ini telah menjadi saksi perjalanan 12 tahun UNUSA sebagai kampus unggul, mengarsipkan lebih dari 11.000 dokumen karya sivitas akademika dari generasi ke generasi. Satu tempat penyimpanan terpusat yang mampu menampung seluruh bentuk pemikiran dan inovasi. Skripsi mahasiswa kedokteran tentang pola penyebaran penyakit, skripsi mahasiswa keperawatan tentang kualitas layanan rumah sakit, hingga laporan kegiatan pengabdian masyarakat di pondok pesantren dan pelosok desa.
Melalui repository UNUSA, menampung artikel ilmiah, data riset, bahkan kode aplikasi karya mahasiswa sistem informasi. Semua itu tak hanya disimpan sebagai berkas, tapi diolah dan dikelola dengan sistem yang terintegrasi, sehingga mudah ditemukan, ditelusuri, dimanfaatkan dan disitasi. Disinilah manajemen pengetahuan memainkan perannya, mengubah tumpukan dokumen menjadi aset strategis bagi institusi, mahasiswa dan masyarakat luas.
Manajemen pengetahuan (knowledge management) telah menjadi elemen kritis dalam era digital yang terus berkembang. Manajemen pengetahuan di era digital dan pustakawan memiliki hubungan yang erat. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, telah mengubah cara organisasi mengelola dan memanfaatkan pengetahuan mereka. Manajemen pengetahuan menjadi semakin penting untuk membantu organisasi beradaptasi dengan perubahan yang cepat dan tetap kompetitif di era digital.
Manajemen pengetahuan membantu organisasi mengidentifikasi, membuat, menyimpan dan memanfaatkan pengetahuan untuk mendorong inovasi dan pengembangan produk atau layanan baru. Inovasi berkelanjutan, mendorong terciptanya budaya inovasi dan pengembangan produk atau layanan baru. Organisasi yang mampu mengelola pengetahuan dengan baik akan memiliki keunggulan kompetitif karena dapat beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar dan menciptakan inovasi.
Manajemen pengetahuan membantu mengurangi duplikasi pekerjaan, meningkatkan efisiensi proses, dan mengurangi biaya. Manajemen pengetahuan dapat berjalan dengan didukung oleh pengembangan karyawan, melalui memfasilitasi pembelajaran dan pengembangan karyawan, meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka agar siap menghadapi segala perubahan.
Repository menjadi pilar manajemen pengetahuan, institusional repository merupakan manifestasi nyata dari manajemen pengetahuan dalam praktik. Ia tidak hanya berfungsi sebagai pusat arsip digital, tetapi juga sebagai alat pengukuran kinerja akademik, dan membuka peluang kolaborasi lintas lembaga. Namun, efektivitas repository sangat tergantung pada komitmen manajerial dan kapasitas pustakawan. Dibutuhkan strategi manajemen pengetahuan yang sistematis, meliputi kebijakan unggah mandiri, kurasi koleksi, penguatan metadata, dan integrasi dengan sistem lain (seperti digilib UNUSA, repository UNUSA, RAMA, SINTA, Garuda, Google Scholar). Dengan strategi yang tepat, repository bisa menjadi tulang punggung transformasi digital lembaga Pendidikan. Ia adalah bentuk nyata dari komitmen perguruan tinggi atau lembaga riset terhadap prinsip akses terbuka dan keberlanjutan informasi.
Perkembangan teknologi yang diadopsi oleh perpustakaan menyebabkan transformasi pada peran pustakawan. Hal ini menuntut pustakawan untuk menguasai bidang teknologi informasi, dan mengembangkan diri, mampu beradaptasi dalam menghadapi era digital. Dan hasil penelitian yang dilakukan oleh Tyas (2023), menunjukkan bahwa keahlian pustakawan dalam bidang teknologi informasi berperan penting dalam mengelola perpustakaan digital.
Pertama, kemampuan dalam memahami dan menggunakan alat teknologi informasi, keterampilan mengoperasikan software dan hardware, miultimedia dsb; kedua, kemampuan memahami format dan cara mengakses informasi; ketiga, pustakawan harus memahami struktur sosial masyarakat termasuk usia, profesi, dan lainnya, untuk mengetahui informasi apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat; keempat, kemampuan pustakawan dalam menggunakan perangkat berbasis teknologi informasi untuk melakukan penelitian dan penelusuran; kelima, yaitu kemampuan pustakawan untuk menerbitkan informasi dan berbagai karya ilmiah kepada masyarakat melalui internet dan komputer; keenam, kemampuan untuk selalu beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi untuk menentukan pemanfaatannya; ketujuh, mengevaluasi secara kritis terhadap keuntungan dan kerugian yang ditimbulkan dari penggunaan teknologi.
Pustakawan harus meningkatkan peran dan kompetensinya dalam bidang teknologi informasi agar dapat meningkatkan layanan perpustakaan dan mampu memenuhi kebutuhan pemustaka.
Transformasi cara kerja, revolusi digital memungkinkan organisasi untuk menyimpan, mengakses dan berbagi pengetahuan dengan lebih mudah dan efisiensi melalui berbagai platform digital. Teknologi digital memfasilitasi kolaborasi antar individu dan tim, memungkinkan berbagi pengetahuan dan ide secara lebih efektif. Seperti melalui forum diskusi online, memfasilitasi kolaborasi dan berbagi pengetahuan antar karyawan. Dengan akses yang mudah ke informasi yang relevan, organisasi dapat membuat keputusan yang lebih cepat dan tepat.
Dengan basis pengetahuan, kumpulan informasi yang terstruktur, mudah diakses sehingga membantu untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. Dengan data, dapat mengidentifikasi tren, pola, dan wawasan yang dapat dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan. Dalam dunia yang berbasis pengetahuan, repository dan pustakawan memegang peran penting sebagai arsitek ekosistem informasi digital. Mereka memungkinkan pengetahuan tidak hanya dihasilkan, tetapi dapat dimanfaatkan secara luas, berkelanjutan, dan inklusif. (***)

English

