Satu Abad NU, Warga Nahdliyin Harus Paham Tentang Islam Nusantara dan Perdamaian Dunia

Surabaya – Munculnya istilah Islam Nusantara yang diklaim sebagai ciri khas Islam di Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai toleransi dan bertolak belakang dengan ‘Islam Arab’ telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan penganut Islam di Indonesia. Melihat situasi tersebut Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) memfasilitasi bertemunya para pakar dari dalam dan luar negeri  pada kegiatan Seminar Internasional yang membahas Islam Nusantara dan Perdamaian Dunia, Minggu (5/2).

Memasuki Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU), warga nahdliyin harus paham secara mendasar dan utuh akan istilah Islam Nusantara. Upaya pemaknaan memberikan kontribusi yang besar untuk memahami hakikat Islam Nusantara. Sebagai suatu hal yang mendasar, warga nahdliyin harus mengetahui ciri atau karakteristiknya. Itulah pengantar dari Antropolog Belanda, Prof. Dr. Martin van Bruinessen.

Prof. Martin menerangkan bahwa makna Islam Nusantara akan memberikan pemahaman awal pada seseorang yang berusaha memahami substansi Islam yang ada di Indonesia dan di luar negeri. Dengan kata lain, makna Islam Nusantara itu berfungsi membuka jalan awal bagi pemahaman seseorang dalam menggali dan mengkaji pemikiran, pemahaman dan pengamalan ajaran-ajaran Islam yang mencerminkan dan dipengaruhi oleh kelokalan di Indonesia. Islam Nusantara memiliki dua sudut pandang. Pertama, yaitu paham Islam dan implementasinya berlangsung di kawasan Nusantara sebagai akibat perpaduan antara agama dan budaya lokal, sehingga memiliki kandungan nuansa kearifan lokal (local wisdom).

Sedangkan yang kedua, merupakan Islam yang berkarakter Indonesia, tetapi juga sebagai hasil dari perpaduan antara nilai-nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal. “Islam Nusantara hanyalah sebutan atau konsep dari Islam yang secara alami berkembang di tengah budaya Nusantara. Tanpa disebut Islam Nusantara pun, pemahaman dan pengakuan pada budaya dan kearifan lokal sedari dulu dilakukan NU. Sejarah mengenal wali sanga atau wali sembilan yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa sejak abad ke-15. Mereka menggunakan metode dakwah yang lembut dengan akulturasi budaya lokal. Wayang yang merupakan budaya Hindu menjadi sarana dakwah Islam,” ungkapnya.

Pria yang mengajar di Utrecht University, Netherlands ini, menjelaskan, dalam mempelajari Islam Nusantara, masyarakat harus paham sejarah masuknya agama Islam di Nusantara (Indonesia), karena Islam Nusantara yang dibangun dengan penuh kelembutan dan keindahan ini masih menjadi kontroversi di Indonesia. Hal ini menimbulkan perdebatan dikalangan umat Islam. Islam Nusantara bukanlah sebuah ajaran, atau madzhab akan tetapi hanya penyatuan antara budaya yang tidak menyimpang dari syariat Islam.

“Islam Nusantara merupakan bentuk akulturasi antara budaya Indonesia dengan berbagai nilai-nilai yang terkandung dalam agama Islam. Untuk memahami Islam Nusantara, kita harus memahami sejarah masuknya Islam di Indonesia,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Achmad Jazidie, M.Eng., mengungkapkan, bahwa dalam rangka satu abad NU, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) memfasilitasi pertemuan internasional. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para warga nahdliyin, agar paham secara mendasar terkait Islam Nusantara, karena istilah Islam Nusantara belum final dan masih banyak pendapat di luaran sana.

“Adanya kegiatan ini, Unusa berperan serta dalam memfasilitasi para pakar baik dari dalam dan luar negeri untuk menemukan pengertian yang final terkait Islam Nusantara. Warga Nahdliyin harus memahami bahwa Islam Nusantara itu sebagai sifat, maka akan muncul sebagai hal yang baik, dan dapat memberikan suatu bentuk perdamaian serta bisa memanusiakan manusia,” ungkapnya. (***)