Dosen Unusa Raih Green Talents dari Kementerian Pendidikan dan Penelitian Federal Jerman

Surabaya: Edza Aria Wikurendra, S.KL., M.KL, Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) yang sedang mengambil program doktor di Hungarian University of Agriculture and Life Science terpilih menjadi salah satu peserta memperoleh program Green Talents, dari Kementeri Pendidikan dan Penelitian Federal Jerman.
“Alhamdulillah, bersyukur bisa terpilih menjadi salah satu peserta untuk mengikuti program ini. Peserta program ini bersifat aktif mendaftar dan diseleksi oleh juri yang dipilih. Diikuti oleh semua negara dan dipilih 25 young scientist. Untuk tahun ini terpilih 18 negara, kata Edza.
Apa manfaat dari diperolehnya program ini? Manfaatnya cukup bergengsi, katanya, para pemenang diberi fasilitas untuk research stay di Jerman selama 3 bulan.
Dikatakannya, Green Talents merupakan program dari Kementrian Pendidikan dan Riset Jerman, yang memberi penghargaan terhadap 25 peneliti muda dari seluruh dunia dalam bidang pembangunan berkelanjutan. Program ini dilaksanakan oleh Pusat Dirgantara Jerman. Pendaftarnya mencapai ribuan orang dari seluruh dunia, dan hanya 25 peserta terpilih dari 18 negara. Unusa menjadi institusi pendidikan satu-satunya dari Indonesia pada tahun ini,” katanya.
Menurut Edza, mengikuti program tentu memiliki tantangan tersendiri. Sebagai calon peserta mereka harus memuaskan para juri yang memiliki standar tinggi, ditambah lagi dengan saingan dari seluruh dunia yang memiliki rekam jejak penelitian luar biasa.
“Penilaian secara umum dilakukan berdasarkan perspektif kita terhadap pembangunan berkelanjutan. Saya mengusulkan bahwa pembangunan berkelanjutan harusnya melihat pada kekuatan dan potensi lokal, seperti yang saya lakukan di riset saya tentang integrasi pendekatan circular economy ke dalam pengelolaan sampah sehingga menciptakan model pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” ujarnya.
Banyak keterbatasan fasilitas untuk bisa melaksanakan penelitian yang dapat diakui secara Internasional, katanya lagi.
Nantinya dalam program tersebut, lanjut dia, ada dua agenda utama yakni science forum berupa kunjungan ke institusi-institusi riset dan perusahaan terkemuka di Jerman sebagai pembekalan.  Kemudian, melakukan diskusi dengan para ahli terkait penelitian-penelitian untuk memecahkan suatu permasalahan di lingkungan global.
“Serta research stay yaitu tiga bulan riset di Jerman, di institusi mana pun di Jerman, sesuai pilihan. Seluruh biaya ditanggung oleh Pemerintah Jerman,” ujarnya. (Humas)