Surabaya – Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK UNUSA) berkolaborasi dengan Universiti Malaya menggelar International Webinar bertajuk “From Spasticity to Contracture: A Practical Neuromuscular–Musculoskeletal Approach to Stroke”, Jumat (27/3). Kegiatan ini menghadirkan para pakar rehabilitasi medik untuk membahas pendekatan komprehensif dalam penanganan pasien stroke.
Dekan FK UNUSA, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG., Subsp.F.E.R, dalam sambutannya menegaskan pentingnya pendekatan komprehensif dalam penanganan stroke. Pendekatan ini menjadi penting karena stroke sering menimbulkan komplikasi lanjutan seperti spastisitas (kekakuan otot) hingga kontraktur (keterbatasan gerak permanen), yang jika tidak ditangani secara tepat dapat menyebabkan disabilitas jangka panjang.
“Tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut, peningkatan kasus stroke juga mulai terlihat pada usia produktif. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena berdampak pada kualitas hidup masyarakat serta produktivitas secara luas. Melalui forum internasional ini, kami ingin memperkuat kolaborasi akademik sekaligus memperkaya wawasan tenaga kesehatan dalam menangani stroke secara komprehensif, mulai dari pencegahan komplikasi hingga rehabilitasi,” ujarnya.
Sementara itu, Associate Professor Dr. Anand Samugam, MD dari Universiti Malaya dalam opening speech menyoroti urgensi pendekatan multidisiplin dalam rehabilitasi pasien stroke.
“Pendekatan neuromuskular dan muskuloskeletal harus dilakukan secara terintegrasi agar pasien stroke tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga memiliki kualitas hidup yang optimal,” ungkapnya.
Dalam sesi utama, Dr. Chung Tze Yang, MD memaparkan pentingnya intervensi dini untuk mencegah terjadinya komplikasi lanjutan pada pasien stroke.
“Spastisitas yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi kontraktur permanen. Oleh karena itu, intervensi sejak dini menjadi kunci utama dalam rehabilitasi,” jelasnya.
Senada dengan itu, dr. Sakinah Sabirin, MD menekankan bahwa pendekatan rehabilitasi harus bersifat individual dan berkelanjutan.
“Setiap pasien stroke memiliki kondisi yang unik, sehingga strategi rehabilitasi harus disesuaikan secara personal dengan mempertimbangkan aspek fungsional dan kualitas hidup pasien,” tuturnya.
Dari sisi praktisi nasional, Dr. Rita Vivera Pane, dr., Sp.KFR(K), FIPP turut memberikan perspektif klinis berdasarkan pengalaman di Indonesia.
“Kolaborasi antara dokter, fisioterapis, dan tenaga kesehatan lainnya sangat menentukan keberhasilan rehabilitasi pasien stroke, terutama dalam mencegah disabilitas jangka panjang,” paparnya. (Humas Unusa)
English

