Surabaya – Ketika bulan Ramadhan identik dengan berburu takjil yang dominan dengan hal yang manis dan gorengan. Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri identik dengan opor dan segala olahan makanan bersantan.
Dosen program studi (Prodi) S1 Gizi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) Paramita Viantry S.Gz.RD., M.Biomed., sebelumnya menjelaskan betapa pentingnya menjaga asupan gizi saat berpuasa. Kini dosen yang akrab disapa Mita itu menegaskan pentingnya kontrol asupan makanan saat lebaran.
Budaya berkunjung ke rumah-rumah untuk saling meminta maaf biasanya diiringi dengan memakan opor hingga rendang. Tak berhenti disitu, masih ada kue kering khas lebaran yang setidaknya para tamu harus mencoba. Menurut Mita budaya ini memang tak bisa dihindari, oleh karenanya ada pola makan yang harus diterapkan.
Setelah berpuasa sebulan penuh di mana tubuh beradaptasi, dari makan dua kali sehari dengan jeda 14 jam. Saat lebaran tubuh harus kembali beradaptasi ke pola normal. “Kuncinya adalah kembali ke settingan awal dengan frekuensi makan ideal, yaitu tiga kali sehari. Pagi, Siang, dan Malam,” ungkap Mita.
Prinsip gizi seimbang tetap menjadi acuan utama, yang mencakup karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayur, buah, juga air putih. Adapun kita perlu menerapkan strategi dalam menghadapi jamuan lebaran. Dengan pengendalian diri dan pengaturan porsi makan yang ketat.
“Mengingat hidangan khas lebaran umumnya tinggi kalori, lemak, santan dan gula. Karena kue-kue kering ini mengandung kalori dan gula yang tinggi,” terang Mita.
Kita juga perlu peka dalam mendengarkan alarm tubuh. Ketika perut sudah terasa kenyang dan begah, harus segera berhenti. Serta beri jeda waktu sekitar satu hingga dua jam antara ngemil dengan waktu makan besar. Guna menjaga kesehatan lambung dan sistem pencernaan memiliki kesempatan untuk beristirahat.
Selain itu kita juga perlu memperhatikan porsi makanan yang kita konsumsi. Misalnya dengan membatasi porsi protein hewani dengan tidak mengambil semua jenis lauk dalam jumlah besar di satu piring porsi makan. Pilihlah kuah yang paling encer atau rendah santan.
Mita menambahkan bahwa poin yang tak kalah penting adalah menghindari konsumsi makanan bersantan secara terus menerus, baik dalam satu hari maupun secara berturut-turut selama perayaan Lebaran.
Pasalnya hal ini dapat menimbulkan penumpukan lemak dengan resiko kolesterol, jantung, hingga stroke. Kemudian terdapat penumpukan gula yang bisa menyebabkan resistensi insulin hingga diabetes.(Humas Unusa)
English

