Menjaga Stamina Saat Berpuasa Dengan Asupan Gizi Seimbang

Surabaya – Bulan Ramadhan jadi waktu yang begitu ditunggu oleh umat muslim. Euforia bulan suci ini bahkan juga turut dirasakan oleh semua umat. Tradisi berburu takjil hingga membangunkan sahur jadi momen yang begitu diperhatikan masyarakat. 

Namun, euforia berpuasa di bulan Ramadhan juga kerap membuat umat muslim melupakan hal yang paling utama. Yaitu memenuhi asupan gizi seimbang, guna menjaga stamina selama berpuasa. 

Dosen program studi (Prodi) S1 Gizi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) Paramita Viantry S.Gz.RD., M.Biomed., menuturkan asupan gizi seimbang selama berpuasa itu penting. Jika sebelumnya mengacu pada 4 sehat 5 sempurna, kini gizi seimbang merujuk pada program pemerintah yaitu ‘Isi Piringku’. 

“Di mana dalam satu piring makan itu berisi karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur dan buah, juga air putih,” jelas wanita yang akrab disapa Mita tersebut.

Dirinya juga menegaskan jika sebelumnya susu menjadi penyempurna asupan gizi, kini susu sudah termasuk pada protein hewani. Terdapat asupan zat gizi yang perlu dipenuhi manusia, yaitu asupan zat gizi makro dan asupan zat gizi mikro.

Dosen Gizi itu menjelaskan jika asupan zat gizi makro ini seperti energi, protein, lemak dan karbohidrat. Sedangkan asupan zat gizi mikro merupakan vitamin dan mineral. Di mana itu semua dibutuhkan oleh tubuh.

Selama berpuasa waktu makan kita berkurang menjadi dua kali sehari, saat berbuka dan sahur saja. Sehingga pemenuhan gizi seimbang selama berbuka dan sahur sangat penting. “Karena pada dasarnya tubuh kita itu pintar, saat berpuasa tubuh itu menyesuaikan bahkan menjadi waktu bagi pencernaan untuk beristirahat,” ujarnya.

Rasa khawatir akan haus dan lemas saat menjalani puasa sering menghantui, dengan meminum air yang berlebih. Namun hal yang perlu diperhatikan yakni untuk tidak mengkonsumsi makanan tinggi natrium, lemak atau gula saat sahur.

“Natrium atau garam itu sifatnya mengikat air, dan hanya bertahan selama 2 jam setelah sahur. Kedua lemak, itu menjadi cadangan tubuh hanya sekitar 4-6 jam saja. Sedangkan gula yang merupakan karbohidrat sederhana jika dikonsumsi berlebih dan menumpuk saat sistem pencernaan sedang istirahat dapat menyebabkan resistensi insulin, kadar gula darah meningkat drastis,” ungkap Mita.

Sementara saat berbuka puasa, seperti menjalankan sunnah Rasulullah dengan memakan 3-5 biji kurma. Kandungan 3 biji kurma setara dengan sekitar 50-60 kilo kalori yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gula setelah berpuasa selama 14 jam. “Ditambah segelas air putih, cukup untuk menyesuaikan sistem pencernaan,” ujarnya.

Setelah itu bisa sholat terlebih dahulu, yang mana juga memberi waktu untuk sistem pencernaan siap mengolah makanan berat. Sehingga penyerapan zat gizi bisa berlangsung maksimal. 

“Misal pengen ngopi setelah buka, boleh saja. Asalkan kadar gulanya ini tidak berlebih, misal setidaknya half sugar. Namun perlu diketahui juga kafein ini memicu menghambat penyerapan vitamin dan mineral, baiknya tidak dikonsumsi setiap hari,” tegas Dosen UNUSA itu.Selain itu mengkonsumsi air mineral 1,5-2 liter sehari tetap perlu dipenuhi. Serta yang sering terlupakan adalah tidur yang cukup.(Humas Unusa)