RUANG pengambilan sumpah dan pelantikan di Auditorium Kampus B Unusa, pada Rabu (11/2) siang, terasa lebih hening dari biasanya. Deretan pakaian nasional berdiri tegap, menghadirkan pemandangan yang sarat makna kebangsaan. Para dokter muda laki-laki tampil rapi dengan setelan jas dan dasi, sementara para dokter perempuan anggun dalam balutan kebaya yang menegaskan identitas budaya sekaligus kehormatan profesi. Mereka didampingi para orangtua dan keluarga.
Empat puluh enam dokter baru Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (FK Unusa) menatap masa depan yang baru saja mereka masuki, masa depan yang tidak hanya tentang profesi, tetapi tentang janji hidup.
Ketika sumpah dokter dilantunkan, kata demi kata mengalir perlahan, namun terasa berat. Suara mereka bersatu dalam satu irama, seolah menjadi gema yang melampaui ruangan, menjangkau daerah-daerah yang kelak akan mereka layani.
Di balik ucapan itu, tersimpan perjalanan panjang dari berbagai sudut Nusantara. Ada yang datang dari pulau-pulau terluar, dari tanah yang jauh dari rumah sakit besar, dari wilayah yang bagi sebagian orang hanya terdengar sebagai titik kecil di peta Indonesia.
Pia, Nabila, Rafli, dan Nuzlan hanyalah empat potret dari 46 dokter baru yang berdiri siang itu. Dalam balutan busana nasional yang mereka kenakan, tersirat simbol bahwa profesi dokter bukan hanya milik institusi pendidikan, melainkan milik bangsa.
Mereka datang dari latar keluarga, budaya, dan geografi yang berbeda. Namun sumpah yang mereka ucapkan menyatukan mereka dalam satu arah: kembali kepada masyarakat.
Di tengah realitas bahwa banyak tenaga kesehatan memilih berkarier di kota besar, pilihan mereka menjadi cerita yang tidak biasa. Mereka memilih jalan yang mungkin lebih sunyi, tetapi sarat makna.
Bagi Pia, misalnya, hari ini bukan sekadar pencapaian akademik. Ia seperti sedang menyelesaikan sebuah lingkaran perjalanan yang dimulai dari rumah kecil di Mobagu, Sulawesi Utara.
Sejak kecil, ia tumbuh di tengah keluarga guru. Ia terbiasa melihat kedua orang tuanya berangkat pagi, pulang sore, membawa cerita tentang murid-murid yang mereka ajar dengan kesabaran. Dari rumah itulah Pia belajar bahwa pengabdian bukan selalu tentang sorotan, melainkan tentang ketulusan.
Ia masih mengingat cerita warga kampung yang harus menunda berobat karena jarak layanan kesehatan terlalu jauh. Ada yang harus menyeberang wilayah lain hanya untuk mendapatkan penanganan medis. Cerita-cerita sederhana itu, tanpa ia sadari, tumbuh menjadi alasan mengapa ia bertahan melewati kerasnya pendidikan kedokteran.
Menjadi dokter pertama di keluarganya membuat langkah Pia terasa lebih sunyi, tetapi juga lebih bermakna.
“Sejak awal saya ingin kembali ke Mobagu,” ucapnya pelan, seolah memastikan bahwa sumpah yang baru saja diucapkannya bukan sekadar formalitas.
Baginya, dokter bukan hanya tentang menyembuhkan penyakit, tetapi menghadirkan rasa tenang bagi masyarakat yang selama ini harus menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pertolongan.
Jika Pia membawa kenangan tentang ruang kelas, Nabila Yusmawati membawa ingatan tentang jalan tanah yang berlumpur, kendaraan yang sesekali harus berhenti menunggu bantuan, dan perjalanan belasan jam menuju daerah pedalaman Papua Barat.
Ia tumbuh di Manokwari, dalam keluarga yang akrab dengan dunia kesehatan. Ibunya, seorang dokter sekaligus Kepala Dinas Kesehatan Papua Barat, sering mengajaknya ikut dalam pelayanan kesehatan ke wilayah terpencil.
Bagi sebagian anak, perjalanan panjang seperti itu mungkin melelahkan. Namun bagi Nabila kecil, perjalanan itu justru menjadi ruang belajar tentang makna profesi dokter.
Ia masih mengingat bagaimana masyarakat menyambut kedatangan tenaga kesehatan dengan wajah penuh harapan. Ada yang datang membawa hasil kebun sebagai tanda terima kasih, hadiah sederhana yang justru terasa sangat dalam.
Di momen-momen itulah, Nabila menyadari bahwa dokter bukan sekadar profesi, tetapi kehadiran yang bisa mengubah rasa takut menjadi harapan.
Kini, setelah resmi menyandang gelar dokter, Nabila ingin kembali ke tanah yang membesarkannya.
Ia belum memutuskan jalan spesialis apa yang akan ditempuh kelak. Namun satu hal sudah pasti: bidang yang ia pilih harus menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat Papua.
Di barisan lain ruangan itu, Muhammad Rafli menyimpan cerita yang berbeda. Ia berasal dari keluarga yang menjadikan dunia medis sebagai napas kehidupan. Kedua kakaknya lebih dulu menjadi dokter dan mengabdi di Tarakan.
Namun pilihan Rafli bukan sekadar mengikuti jejak keluarga. Ia memilih jalan itu karena percaya bahwa pulang kampung bisa menjadi bentuk keberanian, bukan keterbatasan.
Tarakan, yang dahulu dikenal sebagai wilayah 3T, kini berkembang pesat. Tetapi di balik pertumbuhan itu, kebutuhan tenaga dokter masih terasa nyata.
Rafli mengenang pengalaman saat menjalani kepaniteraan klinik. Ia beberapa kali terlibat dalam tindakan resusitasi jantung paru—momen ketika hidup seseorang ditentukan dalam hitungan detik. Ia juga menyaksikan wajah-wajah keluarga pasien yang memegang harapan dalam diam.
Dari ruang-ruang perawatan itulah, ketertarikannya pada bidang jantung tumbuh. Ia ingin menjadi dokter yang tidak hanya hadir saat pasien sakit, tetapi juga membantu memperpanjang harapan hidup masyarakat di daerahnya.
Sementara itu, dr. Nuzlan Nuari membawa cerita dari Morotai, Maluku Utara, sebuah daerah yang mungkin jauh dari hiruk pikuk kota besar, tetapi dekat dengan mimpinya tentang pengabdian.
Ia bukan berasal dari keluarga tenaga kesehatan. Dunia kedokteran awalnya terasa asing dan menantang baginya. Anatomi yang rumit, ritme belajar yang keras, hingga tuntutan pendidikan klinik menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Pengalaman internasional yang ia jalani di Universitas Putra Malaysia membuka wawasannya tentang sistem pelayanan kesehatan modern. Namun pengalaman itu tidak membuatnya ingin menjauh dari Indonesia.
Sebaliknya, ia semakin yakin bahwa ilmu yang ia pelajari harus kembali ke tanah kelahirannya.
Ia menyimpan mimpi besar untuk menjadi spesialis bedah saraf, bahkan melanjutkan studi doktoral. Ia membayangkan suatu hari dapat mengabdi sebagai dokter sekaligus akademisi yang membantu memperkuat sistem kesehatan di daerah.
Bagi Pia, Nabila, Rafli, dan Nuzlan hanyalah empat potret dari 46 dokter baru yang berdiri siang itu. Mereka datang dari latar keluarga, budaya, dan geografi yang berbeda. Namun sumpah yang mereka ucapkan menyatukan mereka dalam satu arah: kembali kepada masyarakat.
Di tengah realitas bahwa banyak tenaga kesehatan memilih berkarier di kota besar, pilihan mereka menjadi cerita yang tidak biasa. Mereka memilih jalan yang mungkin lebih sunyi, tetapi sarat makna.
Bagi mereka, pulang bukan berarti mundur. Pulang adalah cara untuk memastikan bahwa harapan hidup masyarakat tidak berhenti hanya karena jarak, fasilitas, atau keterbatasan tenaga medis.
Ketika prosesi sumpah berakhir dan para dokter itu melangkah ke luar auditorium, empat puluh enam dokter muda itu membawa lebih dari sekadar gelar. Mereka membawa janji yang akan bergaung hingga pelosok Nusantara.
Janji untuk hadir. Janji untuk melayani. Janji untuk menjadikan ilmu sebagai cahaya bagi mereka yang paling membutuhkan.
Dan dari ruangan itu, Indonesia kembali mendapatkan 46 penjaga kehidupan—yang memilih pulang agar harapan tetap tinggal. (Humas Unusa)
English

