Dosen FK Soroti Manajemen Nyeri Kepala Alami sebagai Alternatif Aman

Surabaya – Nyeri kepala masih menjadi salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dialami masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang memilih mengonsumsi obat pereda nyeri kimiawi sebagai solusi cepat, meskipun penggunaan jangka panjang berpotensi menimbulkan efek samping.

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Unusa, dr. Moch. Dwikoryanto, Sp.BS(K), FINPS, menyampaikan bahwa ketergantungan pada obat analgesik dapat menjadi masalah, terutama bagi kelompok masyarakat yang terkendala biaya, akses obat, maupun risiko efek samping jangka panjang.

“Sebagai alternatif, manajemen nyeri secara alami dapat menjadi solusi yang aman, murah, dan dapat dilakukan secara mandiri,” ujarnya.

Menurut dr. Dwikoryanto, pengelolaan nyeri kepala secara alami tidak hanya membantu meredakan keluhan fisik, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas tidur, penurunan stres, serta kesejahteraan mental secara keseluruhan. Metode ini dinilai minim risiko dan tidak menimbulkan ketergantungan seperti penggunaan obat-obatan kimia.

Ia menjelaskan, salah satu teknik paling sederhana adalah pengaturan pernapasan dan relaksasi. Pernapasan dalam dengan pola 4-4-6—menarik napas selama empat hitungan, menahan selama empat hitungan, dan menghembuskan napas perlahan—dapat membantu menenangkan sistem saraf pusat dan mengurangi ketegangan otot.

Selain itu, teknik akupresur juga dapat dimanfaatkan untuk meredakan nyeri kepala. Titik yang umum digunakan berada di antara ibu jari dan jari telunjuk, dengan tekanan lembut selama satu hingga dua menit. “Pijatan ringan pada leher dan bahu juga membantu melancarkan aliran darah ke kepala, terutama saat kelelahan,” jelasnya.

Penggunaan kompres panas dan dingin turut menjadi metode yang efektif. Kompres hangat dianjurkan untuk nyeri kepala tipe tegang akibat kekakuan otot, sedangkan kompres dingin bermanfaat untuk nyeri berdenyut atau setelah cedera ringan. Penerapan kompres disarankan selama 15 hingga 20 menit sesuai kebutuhan.

Dr. Dwikoryanto juga menganjurkan masyarakat rutin melakukan latihan fisik sederhana seperti peregangan leher, bahu, dan punggung. Gerakan ringan tersebut dapat meningkatkan fleksibilitas tubuh dan mencegah kekakuan yang memicu nyeri.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tidak semua nyeri kepala bersifat ringan. Masyarakat diminta waspada dan segera berkonsultasi dengan tenaga medis apabila nyeri kepala semakin sering dan berat, disertai mual hebat, gangguan penglihatan, gangguan keseimbangan, mati rasa pada salah satu sisi tubuh, perubahan kepribadian, hingga kejang.

“Kepekaan terhadap sinyal tubuh sangat penting. Jangan mengabaikan nyeri, namun juga jangan langsung bergantung pada obat tanpa mencoba cara alami terlebih dahulu,” tegasnya.

Dengan menerapkan manajemen nyeri mandiri dan aktivitas fisik secara rutin, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu mengatasi rasa sakit, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh. (***)