Surabaya – Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh bersama dengan Bank Jatim menggelar webinar volume dua diskusi online tentang penguatan ekonomi pesantren one pesantren one product (OPOP) dimassa pandemi Covid-19 melalui aplikasi Zoom Sabtu (4/7).

Dalam acara ini pemateri Prof Candra Fajri Ananda, S.E., M.Sc., Ph.D yang merupakan komisaris Bank Jatim dan Staf Ahli Mentri Keuangan, Herry Setya Yudakka ST. yang merupakan pimpinan Bank Jatim cabang Malang, Mohammad Ghofirin, M.Pd Sekertaris tim penguatan dan pengembangan program OPOP Jawa Timur, H.M. Alaikal Fajri, S.H.I., MM merupakan koordinator bidang pengembangan pesantrenpreneur. Dalam acara ini dipimpin oleh moderator Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, Ms pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh.

Staf Ahli Mentri Keuangan, Candra Fajri Ananda menjelaskan jika selama masa transisi era new normal ini pemerintah sudah menyiapkan langkah untuk membantu pesantren. Dengan kondisi ini, dapat membantu pesantren untuk membantu perekonomian pesantren.

“Saat ini pemerintah masih terus menyiapkan untuk program yang dapat membantu perekonomian pesantren,” ucap pria yang juga menjabat sebagai komisaris Bank Jatim, Sabtu (4/7).

Sekertaris tim penguatan dan pengembangan program OPOP Jawa Timur, Moh Ghofirin menjelaskan OPOP membantu perekonomian pondok pesantren dengan beberapa pelatihan pemasaran hingga halal canter yang ada di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). “Adanya pandemi ini mempengaruhi berbagai sektor termasuk ekonomi,” jelasnya.

Ghofirin menjelaskan banyak peserta OPOP yang tengah mengurus sertifikat halal melalui halal canter yang ada di Unusa. Ini sebagai salah satu upaya untuk menjalankan perekonomian pondok pesantren. “Selain itu di OPOP ini juga terus melakukan pelatihan kepada pelaku usaha pondok pesantren yang merupakan penggerak ekonomi,” jelasnya.

Sedangkan, H.M. Alaikal Fajri, S.H.I., MM merupakan koordinator bidang pengembangan pesantrenpreneur menjelaskan jika keuangan pondok pesantren harus dipisahkan antara keuangan pondok dengan bisnis. “Jadi harus dibuatkan holding jadi memang benar benar bisa dikelola dengan baik keuangan,” ucap pria yang akrab disapa Gus Alex.

Pimpinan Bank Jatim cabang Malang, Herry Setya Yudakka memberikan tips untuk tentang suku bunga ringan seperti jangan tergiur dengan suku buka 0,4 persen atau lainnya. Serta harus dilihat angsurannya yanh paling murah. “Yang selanjutnya jika punya rezeki lebih jika ingin melunasi itu bagaimana bunganya,” bebernya.

Herry menjelaskan kredit macet itu dikarenakan dilihat dari kemampuan bayar tapi jika tidak ada niat maka tidak akan terbayar kredit. “Sebaliknya jika memiliki niat membayar tapi kemampuan untuk membayar tidak ada,” ucapnya. (sar humas)

Spread the love