Surabaya – Penelitian mengenai Analisis Cemaran Makanan Jajanan Terbuka dan Tertutup di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang yang dilakukan dosen Fakultas Kedokteran Unusa, dr. Meidyta Sinantryana Widyaswari, Sp.Kk dan dr. Kartuti Debora, Sp.MK(K), dibantu mahasiswa Mohammad Qoimam Bilqisthi Zulfikar berhasil terpublish di Internasional Conference on Medical and Health Sciences (ICMHS) Proceedings of Iserd Internasional Conference yang berada di Rabat. Ini pengalaman pertama bagi kedua dosen tersebut dapat menembus publikasi internasional.

dr. Meidyta Sinantryana Widyaswari, Sp.Kk menjelaskan, latar belakang penelitian yang dilakukannya. Berawal dari kasus demam di Ponpes tersebut. Saat menganalisa mikrobiologis dan biokimia ternyata ditemukan Escherichia Coli dan Klebsiella Pneumoniae. “Kedua bakteri yang ditemukan itu ada pada makanan tertutup maupun tidak tertutup,” katanya Jumat (26/3).

Bakteri ini bisa mempengaruhi kesehatan, salah satunya menyebabkan sakit demam tifoid serta adanya gangguan pada pencernaan. “Penyebabnya bermacam-macam salah satunya karena makanan yang kurang higienis atau cara pengolahannya yang kurang baik,” katanya.

Masuknya hasil penelitian ini dalam publikasi internasional, bagi dr Meidyta, adalah untuk pertama kalinya, karena itu ia merasa bangga dan terlecut untuk melakukan hal sama berikutnya. “Saya bangga berhasil lolos di publikasi internasional. Saya berharap hal ini bisa menjadi pelecut semangat pada sejawat dosen lain,” katanya membeberkan.

Sementara itu, Mahasiswa Unusa, Qoimam menjelaskan hasil penelitinya tersebut, ia menemukan cemaran bakteri Eschericia Coli sebanyak 30% dan Klebsiella Pneumoniae sebanyak 40% pada sampel jajanan terbuka (unwrapped), hal sama juga ditemukan pada jajanan tertutup (wrapped).

Dari hasil penelitian ini, mereka berharap ke depan penanganan makanan di pondok pesantren harus memenuhi persyaratan food hygiene sejak mulai proses penanganan dan pembuatan serta pengemasannya.

“Persyaratan ini diharapkan bisa menjaga satri lebih sehat dalam memenuhi kebutuan asupan gizi,” jelas Qoimam. (sar humas)

Spread the love