SURABAYA – Pada tahun 2019 muncul berbagai wabah yang memakan korban hingga ribuan orang. Di awal tahun, wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jawa Timur mencapai 2.660 kasus dengan korban meninggal dunia 46 jiwa. Wabah DBD di Jatim pun tertinggi di Indonesia.

Pertengahan tahun ini, masyarakat  kembali diresahkan dengan penyebaran wabah Hepatitis A yang menyerang masyarakat di Pacitan. Tercatat korban Kejadian Luar Biasa (KLB) Hepatitis A mencapai 1.102 pasien. Akibatnya, jemaah calon haji asal Pacitan harus rela diperiksa secara ketat.

Berbagai kejadian itu menyadarkan pentingnya upaya pemberdayaan masyarakat terhadap kesehatan. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), sebagai salah satu universitas yang benar-benar memahami kesehatan global, terdorong terlibat aktif mencari solusi.

Unusa pun kembali  menggelar ‘Surabaya International Health Conference (SIHC) ke-2’, di Hotel Novotel Samator, Surabaya, pada 12-14 Juli 2019.

Bertema Empowering Community for Health Status Improvement, SIHC ke-2 diikuti sekitar 200 peserta dari delapan Negara, yakni Indonesia, Jepang, Taiwan, Philipina, Malaysia,  Turki, German, dan United Kingdom. Rencananya SIHC ke-2  akan dibuka langsung oleh Gubernur JawaTimur Khofifah Indar Parawansa.

“Dua kejadian wabah penyakit yang muncul tahun ini, seperti DBD dan Hepatitis A, memberi kesadaran pada kita semua pentingnya personal hygiene (sebuah tindakan memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis). Dan personal hygiene bisa menyentuh kebutuhan masyarakat akan kesehatan.  Melalui kegiatan inilah kami berharap bisa memberikan kemampuan pemahaman pada komunitas masyarakat terhadap pencegahan munculnya penyakit,” papar  Wiwik Afridah, SKM., M.Kes, selaku Ketua SIHC ke-2.

Wiwik menjelaskan, SIHC menjadi wadah kegiatan dan pertemuan ilmiah untuk meningkatkan status kesehatan melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian. Ketiga kegiatan tersebut akan menjadi basis preventif yang bisa dilaksanakan masyarakat.

SIHC merupakan program kerja Lembaga Penelitian dan Pengabdian  Masyarakat (LPPM) Unusa  yang diselenggarakan dua tahun sekali.  Tahun ini digelar bertepatan rangkaian kegiatan peringatan Dies Natalis ke-6 Unusa pada Juli 2019.

SIHC ke-2 merupakan kolaborasi dari tiga fakultas kluster Ilmu Kesehatan, yakni Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan, juga Fakultas Keperawatan dan Kebidanan.

SIHC pertama digelar 13 Juli 2017 dan dihadiri 150 peserta dari empat negara. Saat itu diprakarsai Fakultas Keperawatan dan Kebidanan bertema Optimizing Health Care Quality Through  Research, Clinical  Treatment And Education.

Wiwik menandaskan, tujuan pembentukan SIHC tidak sekadar meningkatkan kemampuan ilmiah para pakar, namun sekaligus bisa menyampaikan dan menyebarluaskan hasil penelitian kepada masyarakat, agar menjadi acuan dalam tindakan pencegahan kesehatan.

Program kesehatan yang telah dilakukan Unusa memang fokus pada tindakan pencegahan. Wiwik mencontohkan kerjasama Unusa dengan pondok pesantren dalam program Poskestren (Pos Kesehatan Pondok Pesantren) yang memberikan layanan kesehatan di lingkungan pondok pasantren.

“Yang terbaru adalah produk aplikasi kesehatan hasil karya dosen Unusa, yakni Kalkulator Kesehatan yang sudah banyak diunggah masyarakat. Aplikasi ini memberi panduan kondisi kesehatan tubuh agar pengguna bisa mengontrol pola hidup sehat,” katanya.

SIHC ke-2 didahului dengan pertemuan tahunan Forum Kedokteran Islam Indonesia (FOKI) pada Jumat, 12 Juli 2019.  Hal yang membanggakan, Fakultas Kedokteran Unusa ditunjuk sebagai tuan rumah pertemuan FOKI.

Selanjutnya agenda inti SIHC ke-2 pada Sabtu dan Minggu (13-14 Juli) bakal menampilkan pembicara dari Jepang, Taiwan, Turki, Malaysia dan Philipina.

“Pada Minggu (14/4) juga digelar workshop leadership yang dilaksanakan secara MOOC (massive open online course), sehingga bisa diikuti siapa saja. Topik workshop adalah membahas Bridging Research and Community: The Role of University in Promoting Tobacco Ban,” pungkasnya. (hap/Humas Unusa)

Spread the love