Surabaya- Akhir-akhir ini, hampir tidak ada hari tanpa hadirnya kata atau istilah “data science”. Kata ini telah menjadi trainding topik pembicaraan dimana pun, lebih-lebih di kampus. Tapi apa sesungguhnya data science? Inilah yang dalam Studium Generale tentang Data Scincne and Digital Economy yang menghadirkan pembicara tunggal Ainun Najib, Head of Analytics Platform at Grab dibahas di Kampus Unusa.
Menurut Ainun, data science adalah clickbait, cara yang bisa digunakan oleh para pemilik konten agar menarik banyak pengunjung dengan membuat judul unik dan menarik. Asal-usul data science adalah sebuah istilah yang dibuat lebih dahulu baru kemudian dicarikan definisinya. Orang pertama yang mengenalkannya adalah D.J Patil, orang India yang ada di Amerika Serikat. “Data science adalah istilah yang populer duluan, dibikin duluan, sehingga definisnya bebas bergantung pada market. Tapi esensi definisinya apa?” kata Ainun bertanya.
Ia mengajak peserta untuk melihat contohnya terlebih dahul. Ia menyebutkan beberapa data science yang digunakan utuk mengambil keputusan dalam merekrut pemain sepak bola dari bintang yang sebelumnya tidak dikenal atau menggiring pemilih dalam kasus pemilu Presiden di Amerika Serikat oleh Donald John Trump. “Trump menggunakan data science dalam memilih isu-isu dalam kampanyenya sehingga ia menang dalam pemilihan Presiden. Indonesia dalam menangani pandemi pun menggunakan data science,” katanya.
Ainun mengajak peserta untuk memahami manfaat dari data scinence. “Lalu apa dong jadinya data science? Tergantung dari apa tujuannya, apa yang mau dilakukan. Definisinya segala sesuatu yang tercatat itulah data. Lalu harus diubah menjadi informasi dan diubah lagi menjadi pengetahuan (knowledge), informasi yang relevan dan berguna, berikutnya data bisa menjadi wisdom.”
Nasionalisme
Ketua Yayasan, Mohammad Nuh dalam sambutannya mengungkapkan kegiatan yang digagas oleh Unusa ini adalah bukti dari tesis tentang mobilitas vertikal dari bangsa Indonesia sedang naik, khususnya warga NU dan kuatnya dispora warga Indonesia khususnya warga NU. “Mas Ainun tidak perlu khawatir bahwa nasaionalisme tidak tergantung dari lokus atau lokasi. Artinya, tidak ada urusannya orang yang ada di luar negeri itu tidak nasionalis atau sebaliknya orang yang ada di Indonesia lebih nasionalis. Hal ini pernah saya sampaikan dalam Kongres Diaspora pertama di Los Angles, Amerika Serikat tahun 2012. Jadi Mas Ainun tidak perlu khawatir soal nasionalisme, karena nasionalisme seseorang ditentukan oleh seberapa besar seseorang berkontribusi untuk bangsa dan negara, dimana pun dia berada,” katanya.
Nuh menegaskan tentang nasionalisme itu, karena Ainun Najib kini tinggal bersama keluarga dan bekerja di Singapura sebagai Head of Analytics Platform di Grab. “Jadi Mas Ainun tidak boleh dihinggapi merasa bersalah karena tidak bisa pulang ke Indonesia dan merasa tidak memiliki nasionalisme. Sepanjang Mas Ainun tetap mampu memberikan kontribusi terbesarnya bagi bangsa dan negara itu sudah termasuk nasionalisme,” katanya.
Nama Ainun Najib, mencuat dan viral namanya ketika Presiden Joko Widodo melantik Pengurus Besar Nahadlatul Ulama dan menyampaikan kepada para kiai untuk bisa memaksa Ainun Najib bisa pulang dan itu luar biasa. “Tentu pandangan saya berbeda. Sepanjang Mas Ainun Najib bisa memberikan kontribusi keilmuannya, seperti yang dilakukan saat ini, memberikan kuliah umum tentang pandangannya teknologi digital dan turunannya, maka itu kontribusi ini sudah cukup,” katanya.
Tentang teknologi digital yang menjadi topik dalam stadium generale, Nuh mengajak para peserta, utamanya sivitas akademika Unusa, anak-anak muda untuk menjadikan teknologi digital sebagai mesin perubahan (transformer) dan disruption. “Kalo kami para senior di era teknologi digital adalah orang asing, bukan digital native, bukan penduduk asli. Para mahasiswa adalah penduduk asli, penduduk digital, karena itu manfaatkan betul teknologi digital,” katanya.
Dikatakan Nuh, teknologi digital tidak sama dengan teknologi kedokteran, teknologi dirgantara, teknologi kelautan. Karena tidak semua orang membutuhkannya. Teknologi digital yang sudah dikategorikan sebagai general-purpose, siapa pun orang dan apa pun pekerjaan, mereka butuh teknologi digital. “Manfaatkan teknologi digital bukan hanya sebagai suporter, driver, dan enebler (pemungkin), tapi harus menjadi mesin perubah, transformer, dan disruption,” kata Nuh. (Humas)

Spread the love