Surabaya – Sebanyak 200 produk One Pesantren One Product (OPOP) dai 160 pesantren di Jawa Timur mengikuti Pameran Jatim Fair X tahun  2019. Pameran digelar selama enam hari, mulai tangal 8 Oktober hingga 13 Oktober 2019, di Grand City Surabaya.

Tahun ini pameran terbesar di Indonesia Timur ini mengangkat tagline “Semarak Belanja Hiburan dan Rekreasi Keluarga”. Selama satu dekade, kegiatan ini  merupakan salah satu rangkaian Peringatan Hari Jadi ke-74 Provinsi Jawa Timur.

“Saya  berterima kasih atas komitmen seluruh pondok pesantren yang sudah berpartisipasi  di Jatim Fair. Transaksi ini Jatim Fair ini melibatkan sekitar 200-an produk dari 160 pesantren di Jatim,” kata  Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak, saat meninjau stand OPOP pada penutupan Jatim Fair X, Minggu (13/10).

Program OPOP merupakan program khusus yang digagas Gubernur Jawa Timur untuk memberikan peningkatan kesejahteraan dan ekonomi masyarakat berbasis pondok pesantren melalui 3 pilar. Ketiga pilar yakni pemberdayaan santri (santripreneur), pesantreneneur, dan masyarakat alumni  pesantren (sociopreneur).

Emil berharap pemasaran produk OPOP tidak berhenti hanya pada pameran saja. “Artinya ini ada program yang berkelanjutan. Di sini saya  agak konsen pada masalah harga, bagaimana harga produk yang dibandrol bisa dipastikan harganya  kompetitif. Ini tak hanya one off tapi  bisa dijual secara berkelanjutan,” tandasnya.

Untuk itu, lanjut  wakil gubernur termuda ini, Pemprov  Jatim akan minta kepada instansi terkait tentang  mapping (pemetaan ) seluruh produk pesantren. Hal ini untuk mengetahui siapa saja kompetitor seluruh produk pondok pesantren (OPOP).

“Setelah mengetahui competitor, kemudian kita bandingkan harga competitor, dan kualitas competitor. Itu saja dulu yang pertama. Juga akan kita lihat dulu apakah ada 10 produk yang sudah siap untuk menerima pembiayaan. Kita mau coba sinergikan dengan Bank Jatim Syariah untuk startup,” kata Wagub.

Keikutsertaan OPOP dalam Jatim Fair tahun ini untuk memamerkan produk-produk santri, pesantren dan alumni pesantren. Pelaksana OPOP merupakan gabungan antar instansi yakni Uiversitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS), Indonesian Council for Small Business (ICSB) dan Dinas Koperasi Provinsi Jatim.

“ Tujuan mengikuti Jatim Fairini agar produk OPOP dikenal masyarakat luas. Sekaligus membuka potensi pemasaran baru baik di dalam maupun di luar negeri. Juga memberi  peluang kepada calon investor yang ingin berinvestasi baik dalam produk santripreneur, pesantrenpreneur, sociopreneur (alumni),” kata Direktur OPOP Jatim Mohammad Ghofirin, MPd.

Menurut Ghofirin yang juga Kepala Humas dan Marketing Unusa, Jatim Fair mampu menyedot ribuan pengunjung. Kunjungan masyarakat di both OPOP diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan diri para startup (pengusaha pemula)

“Pengunjung yang datang banyak di antaranya yang memberi masukan. Dari interaksi langsung dengan masyarakat konsumen, diharapkan pelaku OPOP mendapat wawasan baru. Misalnya bagaimana kemasan yang disukai konsumen, kualiatas isi yang diterima pasar seperti apa, “ katanya.

Hal tersebut perlu dilakukan karena diharapkan ke depan, produk pesantren bisa menjadi produk berkualitas dan unggul dalam segala aspek. “Unggul secara fisik, unggul legalitas formal dengan adanya  sertifikasi produk,  ungul kemasan, unggul pembiayaan, unggul pemasaran dan unggul sumber daya manusia,” katanya.

Ragam produk OPOP yang dipamerkan mulai dari produk makanan dan minuman, fesyen,  aksesoris (tas, sepatu),  handicraft hingga souvenir. Peserta OPOP dari santri adalah siswa dari 250 SMK Mini binaan Dinas Pendidikan. Peserta pesantrenpreneur dari Ponpes Promosda Nganjuk, Ponpes Al Abror Gresik, Ponpes Zaenul Hasan Genggong Probolinggo. Dan 4 alumni pesantren, satu di antaranya dari Techno Karya Nusa. (hap/Humas Unusa)

Spread the love